Pagi di pulau itu datang terlalu tenang. Langit biru membentang tanpa noda, burung camar melintas rendah, dan suara ombak memecah lembut di karang. Dari luar, vila tempat Rania menginap tampak seperti surga kecil. Tapi di dalam dada Rania, ada kegelisahan yang tak ikut berlibur.Rania berdiri di balkon kamar.Ia mengenakan kimono tipis, rambutnya masih tergerai. Di bawah sana, dua bodyguard berjaga di sisi kolam, sementara Bima berdiri agak jauh sambil berbicara melalui alat komunikasi.“Perimeter timur aman. Jangan lengah,” ucap Bima tegas.Rania menghela napas.Pengamanan ini… terlalu berlebihan untuk sekadar bulan madu.Di belakangnya, pintu kamar terbuka.Revano keluar dari kamar mandi dengan kemeja putih terbuka di bagian leher. Wajahnya segar, tapi sorot matanya langsung tertuju pada Rania.“Kamu bangun cepat.”Rania menoleh.“Tidak bisa tidur lama.”Revano mendekat, memeluk dari belakang.“Pemandangannya membuat orang betah, kan?”Rania tersenyum tipis.“Indah.”Revano mencium
Dernière mise à jour : 2026-01-26 Read More