Ketegangan di ruang tamu Mansion Vanderwick mencapai titik didih. Udara seolah membeku di sekitar Alistair. Tatapannya yang tajam terkunci rapat pada Rehan, sementara tangannya mencengkeram pergelangan tangan Lala dengan erat. Tindakan itu dilakukan bukan untuk menyakiti, melainkan sebagai tanda kepemilikan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Rehan, yang sejak tadi duduk santai, kini berdiri dengan gerakan yang tenang namun waspada. Ia tidak tampak terintimidasi oleh aura membunuh yang dipancarkan Alistair. Sebagai pria yang tumbuh di jalanan dan sering berurusan dengan sisi gelap logistik, gertakan adalah makanannya sehari-hari. Namun, ia harus mengakui bahwa pria di depannya ini memiliki jenis intimidasi yang berbeda, yaitu sebuah otoritas yang lahir dari kekuasaan tanpa batas. "Aku tanya sekali lagi," suara Alistair merendah, hampir menyerupai geraman yang keluar dari dada bidangnya. "Siapa kau, dan apa urusanmu dengan istriku?" Rehan tersenyum miring, memasukkan kedua tangann
Read more