"Pergi! Pergi! Jangan! Jangan! Ak! Pergi!"Setibanya di dalam, Bagas mendapati Marco tengah berusaha menggapai Vanila, yang meringkuk di sudut ranjang sambil menangis sesenggukan. "Van!"Bagas berlari mendekati Vanila, dan bertanya pada Marco, "Vanila kenapa, Bang?""Gue juga kaget. Tadi tau-tau dia bangun terus teriak-teriak kayak orang ketakutan," kata Marco. "pas gue deketin, dia malah jerit-jerit." Marco menatap Bagas sekilas lalu kembali menatap Vanila, yang menatapnya nyalang. "Udah manggil dokter, Bang?" tanya Bagas. "Udah. Gue udah pencet tombol itu." Marco menunjuk tombol yang ada di sisi ranjang Vanila. Kemudian pria bertato dan memakai topi hitam itu bergeser, lalu berkata, "coba lo deketin pelan-pelan, Gas. Siapa tau, Vanila ngenalin lo."Bagas mengangguk setuju. "Gue coba, Bang. Semoga dia ngenalin gue," ucapnya, yang kemudian melangkah perlahan mendekati Vanila yang masih meringkuk, dengan kedua tangan yang melingkar di kaki. "Van ... ini gue, Bagas."Vanila sontak m
Last Updated : 2026-04-17 Read more