ログインSeminggu kemudian~ "Kita langsung ke kantor aja, Bang. Tadi, sih, dia nyuruhnya gitu." Bagas naik ke mobil setelah keluar dari kediaman Marco. Disusul dengan lelaki bertato itu di belakangnya. Tak berselang lama, mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah yang tak berpagar tersebut. Satu Minggu Bagas yang dilanda dilema, akhirnya memutuskan untuk menjalankan rencana yang diusulkan Vanila. Sempat merasa tak yakin, jika Marco mau diajak bekerja sama untuk berpura-pura menjadi pembunuh bayaran. Masalahnya, rencana yang akan dijalankan terlalu berisiko. Bagas tidak mau jika sampai ada kesalahan dan membuat Maudy curiga. Namun, Marco yang telah berjanji akan selalu ada untuk membantu Bagas pun langsung setuju, dan menyusun rencana. Dia malah senang bisa ikut andil dalam menyelamatkan nyawa seseorang yang tidak berdosa. "Tampang gue emang mirip penjahat, ya, Gas?" celetuk Marco, yang menatap pantulan wajahnya dari kaca spion mobil. Wajah garang, rahang yang ditumbuhi bulu-bulu tipis
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Marco, suasana di mobil sangat hening. Sejak Vanila memergoki Bagas sedang teleponan dengan Rachel, perempuan itu hanya diam dan tidak bertanya apa pun. Situasi yang membuat Bagas menjadi serba salah. Inginnya menjelaskan, tetapi dia tidak tahu—harus menjelaskan di bagian mana. Sebab, Vanila sendiri tidak berkomentar atau bertanya soal itu. Sudut mata Bagas melirik Vanila yang sedari tadi hanya menatap ke luar jendela. Perempuan itu duduk bersedekap, dan entah sedang memikirkan apa. Bagas menghela panjang, berdeham ringan, lalu memelankan laju mobil karena lampu merah. Roda empat itu berhenti, dan kesempatan Bagas untuk memulai pembicaraan. "Gimana tadi hasil konsultasi sama Karen?" tanya Bagas, menoleh ke samping—menatap Vanila yang tak bergeming. "kapan disuruh balik ke sana lagi?" lanjutnya. Vanila menarik napas, lalu menoleh dan menjawab, "Aku diminta balik ke sana seminggu lagi, Gas." Vanila mengulas senyum tipis. "kamu gak usah
Sesi konsultasi Vanila dengan Karen berlangsung selama dua jam. Sambil menunggu Vanila di dalam, Bagas memilih duduk di teras, dan ngasep. Lelaki itu memilih menunggu di luar, sebab tidak ingin mengganggu Vanila berkonsultasi. Ponsel Bagas yang tergeletak di atas meja bergetar, pesan singkat masuk. Bagas memeriksa ponselnya, tak lama kemudian keningnya mengernyit. "Rachel?" Rupanya Rachel yang mengirim pesan pada lelaki itu. Terlihat ragu saat hendak membuka chat dari Rachel, karena Bagas sedang menjaga jarak. Namun, Bagas juga tidak bisa mengabaikannya. Sebab, dia sudah berjanji akan membantu Rachel supaya bisa kembali bertemu dengan papinya. [Lo semalem gak pulang? Lo tidur di apartemen?] Dua pertanyaan Rachel yang terkesan sangat ingin tahu membuat Bagas menghela panjang. Menekan puntung rokok ke asbak, Bagas pun mengetik pesan balasan. [Iya.] Singkat dan terkesan tak acuh. Bagas sengaja membalas demikian karena tidak ingin Rachel banyak bertanya-tanya lagi. Dia
Vanila merasakan napas Bagas terasa panas saat menerpa kulit wajahnya. Kemudian disertai lembutnya benda kenyal nan basah memagut bibirnya dengan sangat lembut. Pagutan Bagas disambut oleh Vanila tanpa penolakan berarti. Ketika pagutan itu saling berbalas, rengkuhan di pinggang Vanila pun kian merapat. Seolah Bagas tak membiarkan perempuan itu untuk menjauh. Keduanya larut dalam pagutan panas yang terasa makin menuntut. Bagas menginginkan lebih dari sekadar ini. Dia ingin membuat Vanila mendesahkan namanya seperti biasa. Lalu, tanpa meminta izin, Bagas membawa tubuh kecil Vanila ke gendongan ala bridal style tanpa melepas pagutan. Sedangkan Vanila mengalungkan kedua lengannya di pundak Bagas. Langkah Bagas begitu hati-hati ketika membawa Vanila ke kamar, dan membaringkannya di ranjang. Pelan dan sangat lembut, seolah Vanila barang yang mudah pecah. Pagutan terlepas ketika Bagas naik ke atas ranjang, lalu mengungkung Vanila dengan kedua tangan berada di sisi. Tatapan lelak
"Udah, Gas. Ini udah yang ke empat kalinya." Vanila merampas paksa batang rokok yang hendak disulut kembali oleh Bagas, kemudian menaruhnya asal di meja, dengan raut kesal dan jengkel. Bagaimana dia tidak kesal? Sejak datang sampai sekarang Bagas tak berhenti mengasap. Vanila tahu bila Bagas sedang banyak pikiran belakangan ini. Namun, bisakah lelaki itu mengurangi rokok? "Gue pusing, Van. Gue bingung!" keluh Bagas meraup wajahnya berulang-ulang, lalu menyugar rambutnya yang mulai agak memanjang. Ck! Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali potong rambut. Waktunya habis untuk bekerja dan memikirkan cara supaya bisa balas dendam. Vanila menghela, mengulurkan tangannya ke pundak Bagas.."Kenapa pusing? Kenapa bingung? Kalo kamu gak mau lakuin, ya, dah, gak usah diterima. Beres!" ucapnya, seraya berdiri lalu mengulurkan satu tangannya lagi untuk memijat pundak Bagas. Itu hanyalah suatu tanggapan darinya, mengenai pernyataan Bagas yang katanya diajak bekerjasama oleh Maudy.
Bagas menuruti keinginan Theresa, yang memintanya untuk bertemu di suatu tempat. Bukan karena dia menerima begitu saja perintah dari perempuan itu. Bagas hanya tidak ingin mengundang masalah yang lebih besar lagi. Apalagi Theresa ini tipe orang yang tidak sabaran dan suka mengancam. Rese banget 'kan? Antara menyesal dan kapok karena dia sudah salah memilih rekan kerja sama kali ini. Mulut Theresa rupanya mirip ember. Dan Bagas ingin sekali menyumpal mulut itu dengan kaos kaki. CK! Dia mendatangi sebuah kamar hotel yang letaknya tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit. Kamar hotel yang bisa dibilang cukup luas dan mewah. Agaknya Theresa ini memang bukan perempuan sembarangan. Oh, Bagas hampir lupa kalau perempuan itu adalah putri dari wakil direktur rumah sakit swasta terbesar di ibukota. Sudah pasti, Theresa memiliki selera yang tinggi. Terbukti dengan pemilihan kamar hotel bintang satu yang menjadi tempat mereka bertemu siang ini. Ketika Theresa keluar dari kamar mandi







