Home / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab⁵⁵—Tawaran Maudy~

Share

Bab⁵⁵—Tawaran Maudy~

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-04-18 22:40:39

Hari ini Bagas terpaksa tidak menemani Vanila di Rumah Sakit, lantaran Maudy yang mendadak telah kembali dari Bali tanpa mengabari terlebih dahulu.

Katanya sih suprise. Tapi bikin Bagas beneran jengkel dan kesel. Bukannya happy, justru Bagas merasa jika perempuan ini memang sengaja melakukan semua ini..

Bayangkan, sejak tiba hingga detik ini, perempuan itu selalu menempel pada Bagas bak ulat bulu yang tidak mau lepas. Nempel plus minta melulu.

Alhasil, Bagas harus berpura-pura menjadi suami
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Erly Ana
pleaseee... banget gua suka ceritanya kalau endingnya sama Rachel & jatuh cinta ke rachel
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷³—Belum Waktunya~

    Persidangan hari itu akhirnya dihentikan setelah Bagas menyelesaikan rangkaian keterangannya. Masih ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab. Masih ada saksi-saksi lain yang akan dihadirkan. Namun majelis hakim memutuskan pemeriksaan akan dilanjutkan pada persidangan berikutnya. Tok! Tok! Tok! Palu diketukkan tiga kali. "Persidangan ditunda dan akan dilanjutkan sesuai jadwal yang telah ditetapkan." "Sidang selesai." Semua orang mulai berdiri. Suasana ruang sidang yang sejak tadi tegang perlahan berubah ramai. Para wartawan segera keluar untuk mengejar beberapa pihak yang dianggap penting dalam perkara tersebut. Bagas turun dari kursi saksi. Sebelum kembali ke tempat duduknya, dia sempat menatap Maudy. Perempuan itu masih duduk di kursi terdakwa. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Namun kali ini... Tidak ada senyum kemenangan di wajahnya. Bagas tahu. Beberapa bagian dari rencana Maudy sudah mulai terbuka di depan umum. Dan perempuan itu pasti menyadarinya. Bagas

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷²—Bukti-bukti

    Hakim Ketua kembali menatap Jaksa Penuntut Umum."Saudara Penuntut Umum, apakah masih ada bukti yang akan diajukan berkaitan dengan keterangan saksi?"Jaksa berdiri. "Ada, Yang Mulia."Dia lantas mengambil sebuah map tebal dari meja. "Penuntut Umum akan mengajukan beberapa dokumen medis yang berkaitan dengan almarhum Roy Darmawan."Bagas kembali menegakkan tubuhnya.Rachel pun perlahan mengangkat wajah.Jaksa melanjutkan, "Dokumen tersebut terdiri dari rekam medis pasien, catatan perawatan, catatan pemberian obat, serta hasil pemeriksaan kondisi pasien selama berada di rumah sakit."Penasihat hukum Maudy langsung berdiri."Yang Mulia, kami meminta agar seluruh dokumen tersebut diperiksa keasliannya terlebih dahulu."Jaksa mengangguk. "Itu akan dilakukan."Hakim Ketua menatap panitera. "Catat sebagai barang bukti dan lakukan pemeriksaan sesuai prosedur.""Baik, Yang Mulia."Beberapa lembar dokumen kemudian diserahkan kepada majelis hakim.Ruangan kembali hening.Jaksa lalu berkata, "Se

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷¹—Fakta Berikutnya

    IYAAA, paham sekarang 😭❤️ Jadi teks yang kamu kirim ini adalah bagian awal pemeriksaan Bagas, dan lanjutan yang kita buat harus langsung menyambung dari kalimat:> “Tidak ada jalan untuk kembali.”Bagas masih duduk tegak di kursi saksi. Tatapannya tertuju kepada majelis hakim.Dia sudah membuka terlalu banyak hal hari ini.Tentang dirinya.Tentang keluarganya.Tentang alasan dia menjadi Lingga.Tentang pernikahan sirinya dengan Maudy.Namun...Masih ada bagian yang jauh lebih berat untuk diceritakan.Jaksa Penuntut Umum kembali berdiri."Yang Mulia, kami melanjutkan pemeriksaan saksi."Hakim Ketua mengangguk."Silakan."Jaksa kembali menghadap Bagas."Saudara Bagaskara.""Iya.""Setelah Saudara mendapatkan kepercayaan terdakwa, apa yang kemudian Saudara ketahui?"Bagas menarik napas perlahan. "Maudy mulai menceritakan beberapa rencananya kepada saya.""Rencana apa?"Bagas terdiam sesaat. Tatapannya sempat beralih kepada Maudy. Perempuan itu masih duduk diam. Namun kali ini wajahnya

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷⁰—Tidak Ada Jalan Kembali

    Bagas mengembuskan napas panjang. "Karena terdakwa adalah salah satu penyebab keluarga saya hancur."Ruangan kembali sunyi. "Siapa nama ayah Saudara?" "Raditya Saputra." "Almarhum?" "Iya." "Apa yang terjadi dengan beliau?" Bagas mengepalkan tangan di atas pahanya. "Papa saya memiliki perusahaan. Perusahaan itu kemudian mengalami kebangkrutan." Jaksa mengangguk. "Dan apa hubungan kebangkrutan tersebut dengan terdakwa?" Bagas menatap Maudy. "Maudy mengambil hampir seluruh aset perusahaan Papa." Penasihat hukum Maudy langsung berdiri. "Keberatan, Yang Mulia. Pernyataan tersebut merupakan tuduhan yang belum dibuktikan." Jaksa menoleh. "Kami memiliki dokumen transaksi dan laporan keuangan yang akan diajukan sebagai barang bukti." Hakim Ketua mengangkat tangannya.. "Keberatan dicatat. Saksi tetap dipersilakan menjelaskan berdasarkan apa yang dia ketahui." Bagas mengangguk kecil. Dia kembali menatap lurus ke depan, dan lanjut bicara, "Setelah aset perusahaan habis..." Suarany

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁹—Kisah Bagas~

    Satu minggu kemudian... Suasana Pengadilan Negeri Jakarta kembali dipadati pengunjung sejak pagi.Beberapa wartawan telah berkumpul di depan ruang sidang sambil menyiapkan kamera dan alat perekam.Kasus yang menjerat Maudy Prameswari masih menjadi perhatian publik. Hari itu, persidangan memasuki tahap pembuktian. Saksi-saksi akan mulai didengar keterangannya di bawah sumpah.Barang bukti yang selama ini hanya tersimpan dalam berkas penyidikan juga akan mulai diperlihatkan di hadapan majelis hakim. ---Bagas mematikan mesin mobilnya. Dia mengangkat wajah, memandang gedung pengadilan yang berdiri kokoh di hadapannya.Hari ini... Dia bukan lagi seseorang yang menyamar sebagai Lingga.Hari ini.... Dia datang sebagai Bagaskara Saputra.Saksi. Sekaligus korban dari rangkaian perbuatan Maudy."Gas!" Marco melambaikan tangan dari kejauhan. Di sampingnya sudah berdiri Sandi dan Firman.Firman langsung menyeringai. "Semoga hari ini cepat selesai. Gue udah sarapan, tapi tetep lapar," celet

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁸—Babab Baru~

    Keesokan paginya... Langit Kota Jakarta masih diselimuti mendung tipis ketika mobil Bagas memasuki halaman Polres Kota Bandung. Jam di dashboard menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit. Bagas mematikan mesin mobil, tetapi belum juga turun. Kedua tangannya masih menggenggam kemudi. Semalaman dia hampir tidak bisa memejamkan mata. Ucapan Penyidik Ardi terus terngiang di kepalanya. "Kalau suatu hari Rachel mengetahui semuanya... jangan pernah biarkan dia membenci kakaknya." Kalimat itu terdengar sederhana. Namun justru itulah yang membuat dadanya terasa semakin sesak. Roy... Bahkan menjelang akhir hidupnya... Masih memikirkan kedua putrinya. Bagas mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Hari ini... Mungkin dia akan mengetahui lebih banyak tentang rahasia yang selama bertahun-tahun disimpan Roy Darmawan. --- Beberapa menit kemudian... Seorang anggota polisi mengantarnya menuju ruang penyidik. Tok... Tok... "Silakan masuk." Bagas membuka p

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶—Ajakan nikah dadakan~

    Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁵—Iseng nawarin pulang~

    Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁴—Dapet ciuman mendadak~

    Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab³—Tante Cindy~

    Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status