Tiga hari setelah runtuhnya Gunung Tiga Tungku, langit masih berbau asap.Bukan bau perang lagi, melainkan bau kemenangan yang dingin. Logam panas yang telah mendingin, bara yang berubah menjadi debu, dan janji kekuasaan yang mengkristal di udara.Di Puncak Matahari Terbelah, markas Klan Huo, bendera hitam-merah berkibar tanpa angin. Di tengah kompleks berdiri Balai Mahasenyala, bangunan baru yang dibangun di atas reruntuhan lama dengan batu obsidian berkilau. Setiap lempeng dinding terukir rune api yang berdenyut seperti jantung raksasa.Di ujung balai, di atas singgasana tembaga hitam, duduk Huo Tian.Wajahnya tenang, hampir terlalu tenang.Di hadapannya berlutut para tetua Klan Huo dua belas orang, masing-masing membawa segel inti klan. Di kiri kanannya berdiri dua sosok penting:Huo Yanqing, wakil patriark, pemegang tombak yang menembus pertahanan Liang Zhen. Mata tajam, senyum tipis, pikiran setajam pisau.Huo Lian, kepala divisi intelijen, perempuan berambut putih keperakan yang
Last Updated : 2026-02-07 Read more