“Terus kita mau ke mana, Kak?” tanya Keenan sambil melipat tangan di depan dada. “Nggak mungkin kan pulang ke rumah. Males banget aku ketemu Ayah.”Wajahnya masih menyisakan bekas kekesalan setelah percakapan panjang mereka tadi.Sementara Kayla fokus menyetir sambil memikirkan tujuan.Karena sebenarnya alasan pergi dengan Bhargava tadi hanyalah cara halus agar mereka bisa menolak ajakan sang ayah.“Mending kita jalan-jalan berdua aja, Kak,” usul Keenan kemudian. “Makan yang banyak, main TimeZone, nonton film, terus makan lagi sampai malam. Gimana?”Dia sedikit memiringkan tubuh agar bisa melihat wajah kakaknya lebih jelas.“Kayaknya cuma itu deh cara biar kita nggak nangis,” lanjutnya lirih.“Sebenarnya nangis boleh kok, Dek.”“Duh, bukan aku banget.” Keenan mendecak. “Ah, lebih tepatnya bukan kita banget nggak sih, Kak?”“Iya juga sih.” Tatapan Kayla tetap lurus ke jalan. “Tangisan kita kayaknya udah habis waktu kecil. Pas kita butuh Ayah tapi beliau nggak pernah ada.”Dia terdiam s
Magbasa pa