Dor!Peluru menembus kepala Nathan, mengakhiri riwayat pria itu seketika.Ranira menjerit dan langsung memeluk tubuh Evans erat-erat. Evans merengkuh istrinya, berusaha menyalurkan rasa aman meski tubuhnya sendiri lemas dan kesakitan."Evans..." Ranira tiba-tiba meringis kesakitan. "Perutku sakit."Raut wajah Evans langsung berubah kepanikan."Kamu kontraksi?" suaranya mendadak pecah.Ranira mengangguk lemah sambil mencengkeram baju Evans.Evans langsung berteriak pada anak buahnya. "Bereskan semua kekacauan ini!"Tanpa memedulikan lukanya sendiri, Evans membopong Ranira ke dalam pelukannya."Kita ke rumah sakit," katanya panik. "Sekarang."Bau antiseptik menyengat di dalam ruang bersalin saat tangis melengking seorang bayi akhirnya memecah keheningan night itu.Suara yang menandai berakhirnya tumpahan darah, dendam, dan penderitaan.Evans berdiri kaku di samping ranjang. Tangannya gemetaran, bukan karena nyeri luka tembak di tubuhnya, melainkan karena rasa haru yang tak tertahankan.
Last Updated : 2026-07-23 Read more