Pertanyaan itu tidak datang sebagai ancaman.“…siapa kamu?”Sunyi.Namun bukan sunyi yang menekan—melainkan sunyi yang membuka ruang, memberi tempat bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar memiliki bentuk untuk akhirnya… diakui tanpa harus dijelaskan.Gilang—atau sesuatu yang dulu pernah dipanggil dengan nama itu—tidak langsung menjawab.Bukan karena ia ragu.Bukan karena ia tidak tahu.Namun karena untuk pertama kalinya dalam seluruh keberadaannya…ia tidak perlu.Ia tidak lagi harus menjadi sesuatu yang bisa dipahami.Tidak lagi harus menjelaskan keberadaannya dengan kata, logika, atau tujuan.Tidak lagi harus mengikat dirinya pada nama, bentuk, peran, atau arah.Ia hanya… ada.Dan keberadaan itu—cukup.Getaran kecil itu mendekat.Tidak tergesa.Tidak memaksa.Tidak membawa niat yang bisa disebut sebagai ancaman.Ia datang dengan rasa ingin tahu yang murni—sederhana, polos, dan jujur.Sama seperti Gilang dulu.Sebelum semuanya menjadi rumit.Sebelum ada pilihan yang harus diambi
Read more