Udara di dalam gudang itu tiba-tiba terasa sangat berat.Lampu tunggal yang menggantung di langit-langit berayun pelan, menciptakan bayangan panjang yang bergerak di lantai beton. Debu-debu halus beterbangan di udara, terlihat jelas dalam cahaya kekuningan itu.Dan di tengah ruangan—Hanum berdiri dengan pistol yang diarahkan tepat ke kepala pria misterius tadi.Tangannya stabil.Tatapannya dingin.Tidak ada sedikit pun keraguan di wajahnya.“Turunkan senjatamu, Hanum,” kata pria itu dengan nada santai, seolah tidak terlalu terancam meskipun moncong pistol hanya berjarak beberapa sentimeter dari dahinya.“Diam,” jawab Hanum singkat.Gilang berdiri di antara mereka, jantungnya berdegup begitu keras hingga rasanya hampir memecahkan dadanya sendiri.“Ayah…” ucapnya pelan.Namun Hanum tidak menoleh.Tatapannya masih terkunci pada pria di depannya.“Sudah kubilang jangan ganggu hidupnya lagi,” kata Hanum dengan suara rendah yang berbahaya.Pria misterius itu tersenyum tipis.“Ganggu hidupn
Read more