Cahaya itu tidak langsung menghilang.Ia berdenyut.Seolah memiliki napas.Dan di dalam denyut itu—Gilang masih berdiri, masih menggenggam tangan Hanum, meski tubuh mereka terasa seperti terurai menjadi partikel.Suara asing itu kembali terdengar.Lebih dekat.Lebih jelas.“Aku sudah mencarimu… di setiap kemungkinan.”Gilang menegang.Ia mencoba menoleh, namun tubuhnya terasa berat, seperti terkunci di antara dua dunia.Hanum merasakan perubahan itu.Genggaman tangannya menguat.“Kau dengar itu juga?” bisiknya.Gilang mengangguk pelan.Tatapannya masih terpaku pada sosok anak kecil di kejauhan—dirinya sendiri—yang kini tidak lagi menangis.Anak itu berdiri diam.Menatap lurus ke arah mereka.Dan perlahan—tersenyum.Namun senyum itu tidak wajar.Terlalu tenang.Terlalu… tahu.“Ini bukan dunia yang kau lihat sebelumnya,” kata suara itu lagi.“Ini adalah titik awal.”Cahaya mulai meredup.Sedikit demi sedikit, dunia di sekitar mereka mulai terbentuk dengan lebih jelas.Aspal jalan.Pepo
Read more