Senyum itu tidak salah.Tidak kabur.Tidak berubah.Ia sama persis seperti yang pernah mereka lihat sebelumnya—terlalu akrab untuk dianggap kebetulan, namun terlalu mustahil untuk dianggap nyata.Hanum mundur satu langkah lagi.Napasnya tercekat.“Ini… tidak mungkin…” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.Sosok itu memiringkan kepala.Tatapannya berpindah dari Hanum ke Gilang, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak terlihat.“Menarik,” ucapnya ringan.“Jadi kau benar-benar memilih jalan ini.”Gilang tidak langsung menjawab.Tatapannya tajam, namun di balik itu tersimpan sesuatu yang lebih dalam—kewaspadaan yang nyaris seperti ketakutan yang tidak diakuinya.“Siapa kau sekarang?” tanya Gilang akhirnya.Sosok itu tersenyum lebih lebar.“Sekarang?” ulangnya pelan.“Pertanyaan yang bagus… tapi juga terlambat.”Sunyi.Angin yang sebelumnya tak terasa kini bergerak pelan, membawa hawa asing yang membuat ruang di sekitar mereka terasa… tidak stabil.Hanum menatap Gilang.“Apa dia…” ia m
Read more