Share

38 > Titik Balik

Author: Li Pena
last update Last Updated: 2026-02-09 17:41:45

"DOR!"

Suara tembakan itu memecah dunia. Bukan kerasnya yang paling menyakitkan, tapi sunyi yang menyusul setelahnya. Sunyi yang terlalu cepat. Terlalu kosong.

Livia merasa tubuhnya kehilangan berat. Seolah hujan tak lagi jatuh ke tanah, tapi langsung ke dadanya, seolah menghantam jantungnya berkali-kali. Udara tersedak di tenggorokannya. Dunia berputar, lampu helipad melebur jadi garis-garis cahaya yang goyah.

"Raka!" teriaknya.

Nama itu keluar dari mulutnya seperti jeritan yang terlambat. Su
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    39 > Sisa Yang Tak Bisa Dikubur

    Pintu ICU tertutup perlahan. Bunyi itu cukup pelan. Terlalu pelan untuk sesuatu yang barusan merenggut separuh dunia Livia. Lampu merah di atas pintu menyala stabil, dingin, seolah tidak peduli pada darah yang masih mengering di tangan wanita itu.Livia berdiri terpaku dengan tubuhnya yang basah. Rambut hitamnya menggumpal di leher dan punggung, gaun gelapnya berat oleh air dan noda merah yang belum sempat ia sadari. Tangannya masih gemetar, jari-jarinya kaku, seolah lupa bagaimana cara melepaskan sesuatu.Sementara di balik pintu itu, Raka bertarung sendirian. Dan ia… tidak bisa ikut menemani pria yang ia cintai. "Duduk, Liv," ucap Maya pada wanita yang tak ingin terlihat rapuh itu.Suara Maya terdengar dekat. Lebih lembut dari biasanya. Namun Livia tetap tidak menoleh. Matanya masih setia menatap lantai putih rumah sakit yang memantulkan cahaya pucat. Pantulan bayangannya terlihat cukup asing. Ia tampak kurus, rapuh, seperti versi dirinya yang belum sempat ia kenali. "Aku baik-bai

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    38 > Titik Balik

    "DOR!"Suara tembakan itu memecah dunia. Bukan kerasnya yang paling menyakitkan, tapi sunyi yang menyusul setelahnya. Sunyi yang terlalu cepat. Terlalu kosong.Livia merasa tubuhnya kehilangan berat. Seolah hujan tak lagi jatuh ke tanah, tapi langsung ke dadanya, seolah menghantam jantungnya berkali-kali. Udara tersedak di tenggorokannya. Dunia berputar, lampu helipad melebur jadi garis-garis cahaya yang goyah."Raka!" teriaknya. Nama itu keluar dari mulutnya seperti jeritan yang terlambat. Suaranya pecah di tengah hujan, tenggelam di antara langkah-langkah panik dan teriakan yang tak lagi ia dengar dengan utuh. Ia berlari.Langkahnya terpeleset, sepatu basah menghantam lantai dingin, tapi ia tak peduli. Gaun gelapnya terseret air, rambut hitamnya menempel di wajah pucat yang kini tak lagi menyimpan amarah... hanya ketakutan. Tubuh Raka tergeletak di dekat pintu lorong ICU.Tubuhnya mengeluarkan darah. Terlalu jelas dan bahkan terlalu nyata.Livia berlutut, tangannya gemetar saat me

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    37 > Wajah Dari Masa Lalu

    Hujan masih jatuh, tapi tak lagi terdengar oleh Livia. Dunia seolah menyempit pada satu titik... pria yang berdiri di bawah lampu darurat helipad itu. Tubuhnya tinggi, tegap, bahu lebar dibungkus mantel gelap yang basah. Rambutnya hitam dengan gurat abu tipis di pelipis, wajahnya tegas dengan rahang keras yang dulu sering muncul dalam foto-foto lama… foto yang sudah ia bakar sendiri bertahun-tahun lalu.Matanya. Mata itu tak berubah sama sekali. Hitam, tenang, dan ia terlalu mengenalnya."Livia," panggil pria itu lagi, kali ini suaranya lebih rendah, stabil, seolah mereka hanya bertemu setelah makan malam biasa. "Kamu kelihatan… lebih dewasa."Nafas Livia tercekat. Dadanya naik turun. Air hujan mengalir di sepanjang wajahnya, bercampur dengan sesuatu yang asin... ia tak yakin apakah itu hujan atau ingatan yang bocor begitu saja."Itu nggak mungkin," gumamnya pada dirinya sendiri. Suaranya serak. "Kamu sudah lama mati."Mendengarnya, pria

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    36 > Saat Segalanya Dipertaruhkan

    Hujan turun makin kejam, menghantam atap rumah sakit dan helipad dengan suara keras, seolah langit ikut murka. Angin memutar baling-baling helikopter yang masih melayang rendah, membuat udara bergetar dan rambut Livia berkibar liar di wajahnya. Gaun hitamnya menempel di tubuh ramping itu, memperjelas bahu tegas dan tulang selangka yang kini basah, dingin, tapi tak goyah.Lampu kota di kejauhan padam sebagian.Gelap menjalar seperti penyakit, menelan satu demi satu wilayah. Kekacauan yang ia lepaskan kini hidup, bernapas, dan bergerak.Damar mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, senyum tenangnya retak. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol. Pria itu masih berdiri tegap, tapi matanya tak lagi penuh kendali."Kamu gila," katanya, suaranya tenggelam oleh deru angin.Livia berdiri diam. Wajahnya pucat, tapi matanya hitam pekat, berkilat oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari amarah. Keyakinan. Keputusan yang sudah dibuat dan tak

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    35 > Di Antara Hidup Dan Perang

    Bau antiseptik bercampur darah basah menyergap hidung, begitu Livia melangkah masuk. Lorong rumah sakit itu terlalu terang, dengan lampu putihnya yang kejam serta memantulkan wajah-wajah tegang, epatu yang berlari, dan genangan air hujan yang menetes dari ujung mantel hitamnya. Gaunnya menempel di tubuh rampingnya, basah dan robek, memperlihatkan kulit pucat di betis dan pergelangan. Rambut hitamnya yang panjang kini luruh menempel di leher, tapi langkahnya tetap tegak. Tidak ragu. Tidak goyah.Monitor jantung berbunyi dari segala arah. bip… bip… bip…Ritme itu cukup menusuk kepala.Maya berjalan setengah langkah di belakangnya. Ia mengenakan jaket hitam dengan bahu tegap, dan mata awas. Tangannya sudah di dekat pinggang, siap untuk menyerang kapan saja."Mereka sengaja bikin rumah sakit ini sibuk, dengan ambulans keluar-masuk, keamanan lengah," ucap Maya, pelan. Livia tidak menjawab. Namun matanya menyapu papan digit

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    34 > Saat Dunia Tak Lagi Diam

    Ledakan itu tidak hanya mengguncang tanah... namun ia juga merobek malam. Gelombang panas menyapu gudang, membuat udara mendesis. Dinding besi bergetar keras, debu runtuh dari langit-langit, dan tubuh-tubuh terhuyung oleh hentakan yang datang terlambat tapi mematikan. Lampu darurat padam total. Kali ini, bukan sekadar gelap… melainkan kegelapan yang disertai kekacauan. Livia tersandung satu langkah ke belakang. Tumit sepatu botnya nyaris tergelincir di lantai beton yang retak. Nafasnya tertahan, dadanya terasa sesak, bukan karena asap... melainkan karena satu nama yang bergaung di kepalanya.Raka."Timur...!" teriak seseorang dari luar, suaranya pecah oleh ledakan susulan.Maya refleks menarik Livia ke sisi dinding, menekan tubuhnya agar merunduk. Postur Maya pendek dan atletis, rambut pendeknya kini berantakan, wajahnya penuh jelaga tapi matanya tajam, fokus. "Ledakan itu bukan punya kita," katanya cepat. "Itu bom jarak deka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status