Pagi itu, langit di atas pemakaman mewah keluarga Cameron tampak kelabu, seolah-olah awan sengaja menahan diri untuk tidak menumpahkan hujan.Davian berdiri tegak di depan sebuah nisan marmer hitam yang kokoh, tempat mendiang ayahnya beristirahat.Dia mengenakan setelan hitam formal yang membuat auranya terasa semakin dingin.Di sampingnya, Viona berdiri dengan gaun senada, jemarinya menggenggam sebuket bunga lili putih, bukan anggrek yang kemarin sempat memicu badai di rumah mereka.Davian meletakkan tangannya di atas nisan itu, mengusap debu imajiner dengan gerakan yang tidak menunjukkan kerinduan, melainkan beban.“Papa pergi saat aku baru saja menyelesaikan kuliah di luar negeri,” ujar Davian memecah kesunyian.“Dia meninggalkan kekaisaran yang tampak megah dari luar, tapi sebenarnya sedang digerogoti utang dan skandal internal. Aku harus menghadapi semuanya sendirian, Viona.”Viona menoleh lalu menatap profil samping suaminya yang tampak keras. “Kau tidak punya pilihan lain saat
Read more