Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Viona bahkan sebelum ia sanggup membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah.Perlahan, kesadarannya terkumpul kembali, membawa serta ingatan mengerikan tentang kekacauan di galeri, rasa sesak di tengah kerumunan, dan rasa sakit yang menyayat saat sebuah sepatu menghantam bagian bawah perutnya.Detik itu juga, napas Viona tercekat. Jantungnya berpacu liar. Dengan sisa tenaga yang masih tercecer, jemarinya yang gemetar merayap di atas sprei putih yang kasar, mencari-cari bagian perutnya.Ia meraba permukaan perutnya yang tertutup gaun rumah sakit yang longgar. Saat ia merasakan sedikit gundukan yang masih terasa hangat dan denyut lemah di dalam sana, air mata seketika luruh membasahi pipinya yang pucat.“Syukurlah, kau masih di sini,” bisik Viona dengan suara yang nyaris hilang, serak karena tangis yang tertahan.Ia menangis tersedu-sedu dalam kesunyian, sebuah tangisan lega yang bercampur dengan rasa syukur yang tak terhingga ke
Read more