Suasana di dalam klub malam itu terasa menyesakkan, dengan dentum bas yang menggetarkan dada dan kilatan lampu neon yang menyambar-nyambar secara ritmis.Di salah satu sudut area VIP yang lebih privat, Davian duduk dengan punggung menyandar kaku pada sofa kulit berwarna gelap.Di depannya, beberapa botol minuman keras yang sudah kosong berserakan, menjadi saksi bisu atas kekalutan pikiran yang sedang dia alami.Di sampingnya, Julian menyesap minumannya dengan malas, telinganya sudah panas mendengar ocehan kakaknya yang tidak kunjung usai sejak dua jam yang lalu.Davian menuangkan sisa cairan amber ke dalam gelasnya, lalu meneguknya hingga tandas dalam sekali sentakan.Matanya merah, bukan hanya karena pengaruh alkohol, tetapi juga karena beban mental yang hampir membuatnya gila. Dia merasa seperti sedang berdiri di antara dua jurang yang siap menelannya hidup-hidup.“Kau lihat sendiri, Julian,” gumam Davian dengan suara serak, nyaris tenggelam oleh musik.“Dua wanita, satu masa lalu y
Read more