“Tetap teguh dengan keputusannya?” tanya Davian, suaranya terdengar berat dan parau, seolah setiap kata yang keluar harus melewati bongkahan batu di tenggorokannya.Dia menoleh sedikit, memastikan kembali ucapan Julian yang baru saja menghancurkan sisa harapannya malam itu.Julian, yang duduk menyandar di sofa kulit dengan kaki menyilang, hanya memberikan anggukan tunggal yang tegas.Dia menyesap whiskey miliknya perlahan, membiarkan cairan panas itu membakar kerongkongannya sebelum menatap kakak tertuanya dengan tatapan menghakimi.“Viona bukan tipe wanita yang menggertak, Kak. Dia sudah sampai pada titik di mana rasa sakitnya lebih besar daripada rasa cintanya padamu. Dia tetap ingin bercerai, dan kali ini, aku tidak melihat ada keraguan di matanya.”Davian terdiam, jemarinya mencengkeram pinggiran meja hingga buku-bukunya memutih. “Aku tidak bisa membiarkannya pergi, Julian. Tidak sekarang, tidak pernah.”“Kalau begitu, berhentilah menemui Alicia!” potong Julian dengan nada bicara
Read more