Stevanus, ternyata kamu benar-benar menyesal. Sayangnya, kesempatan sudah kami berikan sebelumnya. Sekarang, semuanya sudah terlambat."Nggak perlu beli. Aku dan anakku sudah nggak butuh pendampinganmu lagi. Tolong minggir, aku masih harus pulang membimbing anak belajar."Selesai berkata demikian, aku mengangkat tangan mendorongnya, lalu dengan santai menghentikan sebuah taksi dan membawa putriku naik.Stevanus menatap punggungku. Dia sempat mengejar beberapa langkah, lalu perlahan berhenti dan akhirnya hanya berdiri di tempat sambil menatap kami pergi menjauh.Vonny membenamkan wajahnya di dadaku sambil mendengus pelan. Aku mengusap kepalanya dan bertanya lembut, "Kenapa, Sayang?"Vonny mencibir, "Kenapa Papa bisa menemukan kita?"Aku tersenyum. Hal itu memang sudah kuduga. Dengan latar belakang dan kemampuannya, mencari seseorang bukanlah hal yang sulit.Aku bertanya pada putriku, "Kalau begitu, Sayang mau pulang sama Papa?"Vonny langsung menggeleng keras. "Aku nggak mau pulang. Aku
Read more