Share

Bab 2

Author: Asmatala
"Aku sarankan satu hal padamu, tahu diri dan berhenti selagi bisa. Aku nggak akan selalu sesabar ini menemanimu bertingkah."

Begitu kata-kata itu selesai, dia berbalik dan keluar. Pintu depan dibanting keras hingga suaranya menggelegar. Aku berdiri diam di tempat. Pada akhirnya, aku menundukkan pandangan seperti sudah terbiasa, lalu berjongkok dan mengelap noda anggur merah di lantai sedikit demi sedikit dengan tisu.

Setelah bersama begitu lama, sebagian pasangan pasti pernah mengungkit kata putus setidaknya sekali. Namun selama 10 tahun bersama Stevanus, aku tidak pernah mengatakan kata itu sekali pun. Aku menghargai perasaanku sendiri, juga menghormati perasaan Stevanus. Seberat apa pun hidup ini, aku tidak akan mudah mengatakan menyerah.

Namun jika suatu hari aku benar-benar berkata ingin pergi, itu berarti aku sudah mengambil keputusan bulat.

Setelah membereskan pecahan kaca di lantai, aku mencetak surat perjanjian cerai dan mulai merapikan pakaian-pakaianku satu per satu. Saat semua itu selesai, hari sudah terang.

Entah sejak kapan, putriku Vonny sudah terbangun. Melihatku menarik koper besar, dia memiringkan kepala dengan raut bingung. "Mama, mau ke mana?"

Aku berjongkok dan mengusap kepalanya dengan lembut. "Sayang, Mama mau pergi kerja ke luar negeri. Kamu mau ikut Mama?"

"Mama ke mana, aku ikut ke mana." Vonny mengangguk cepat, lalu bertanya lagi, "Kalau Papa?"

Aku tersenyum pahit. "Papa nggak suka kita. Dia nggak akan ikut. Ke depannya, mungkin kita juga nggak akan tinggal bersamanya lagi."

Di dalam buku hariannya, penilaiannya tentangku hanyalah "melahirkan anak dan pandai mengurus rumah tangga". Di matanya, aku tidak lebih dari alat untuk memberinya keturunan.

Putriku seharusnya mendapatkan kasih sayangnya, tetapi selama bertahun-tahun ini, sikapnya terhadap kami selalu dingin. Jika saja dia memberi sedikit lebih banyak perhatian pada kami, aku tidak akan sampai melangkah ke perceraian.

Setelah mendengarnya, wajah Vonny langsung membeku. Dia menunduk dan menjawab pelan, "Aku tahu Mama dan Papa nggak bahagia bersama. Tapi Mama, Papa kemarin bilang aku anak yang paling banyak dapat bunga merah di kelas. Papa juga janji mau ajak aku ke Disneyland, katanya mau membelikan aku banyak gaun putri yang cantik."

"Mama, ini pertama kalinya Papa setuju mengajakku ke tempat yang seseru itu. Setelah kita pergi ke Disney bersama Papa lalu pulang, baru kita pergi, ya, Ma?"

Melihat harapan di mata putriku, aku ragu sejenak. Aku sangat ingin mengatakan padanya bahwa mungkin papanya sudah lama melupakan janji itu. Stevanus selalu tegas dan menepati janji pada orang luar, tetapi terhadap kami, dia malah berulang kali mengingkarinya.

Namun pada akhirnya, aku tetap mengangguk setuju. Harapanku terhadapnya sudah lama padam, tetapi putriku masih mendambakan lebih banyak waktu bersama ayahnya.

Stevanus, ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan putrimu untukmu. Kalau kamu tetap tidak tahu menghargainya, aku hanya bisa membawa putriku pergi meninggalkanmu selamanya. Dalam hidup ini, kita tidak akan pernah bertemu lagi.

....

Waktu makan siang, aku baru saja menyajikan hidangan ke meja makan ketika bel pintu tiba-tiba berbunyi. "Pasti Papa sudah pulang!" Vonny berlari kegirangan ke arah pintu dan membukanya.

Tak lama kemudian, aku mendengar suara Stevanus. "Vonny, panggil Kak Coco."

Vonny tertegun sejenak, jelas tidak menyangka bahwa papanya membawa orang lain pulang. "Kak Coco."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 10

    Atasan sangat mengapresiasiku. Aku terus mendapat kenaikan jabatan dan gaji, pindah dari rumah kecil ke rumah yang lebih besar. Vonny sangat cerdas dan juga rajin. Tak butuh waktu lama baginya untuk menonjol di antara para siswa lainnya. Aku dan Vonny perlahan melupakan semua kenangan tidak menyenangkan itu dalam kehidupan kami sendiri.Hingga pada tahun berikutnya, di hari kelas praktik Vonny, aku menemaninya berjalan santai di jalanan Paris. Vonny berkata dia perlu berfoto dengan seorang warga negara asal kami.Aku menatap sekeliling. Di jalanan penuh pria dan wanita berambut pirang dan bermata biru, aku jadi agak bingung. "Kalau begitu, sepertinya kita harus ke tempat yang agak jauh."Vonny menunjuk ke arah seorang wanita bertopi tidak jauh dari sana. "Itu orang negara asal kita, bukan?"Wanita itu memakai masker dan kacamata, rambut panjang hitamnya terlihat, gerak-geriknya mencurigakan. Vonny mengangkat kamera dan berlari ke arahnya dengan bersemangat. Perasaanku langsung tidak en

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 9

    Aku menatapnya dengan senyum yang samar dan mata sedikit menyipit. "Stevanus, aku baru sadar kamu benar-benar sangat merasa dirimu paling benar. Apa kamu pikir semua luka yang kamu timbulkan padaku bisa lunas hanya dengan sepatah kata maaf?"Stevanus jarang sekali terdiam seperti itu. Setelah sesaat, dia kembali membuka mulut. "Aku bisa memberimu kompensasi. Apa pun yang kamu mau, aku bisa memenuhinya."Aku mengangkat kepala, tiba-tiba teringat kejadian belum lama ini, lalu tersenyum penuh makna. "Kalau begitu, berlututlah padaku."Begitu mendengar ucapanku, wajah Stevanus langsung menggelap. "Millie, jangan keterlaluan."Aku tertawa mengejek. "Kenapa? Hal yang bisa kulakukan, masa kamu nggak bisa melakukannya?"Sepertinya kata-kataku juga membangkitkan ingatannya akan kejadian itu. Wajahnya makin muram. Melihat dia lama tak bergerak, aku menghela napas pelan dengan nada menyesal.'Benar juga. Orang seangkuh Stevanus, bagaimana mungkin mau melakukan hal seperti itu?'Aku pun menoleh da

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 8

    Stevanus, ternyata kamu benar-benar menyesal. Sayangnya, kesempatan sudah kami berikan sebelumnya. Sekarang, semuanya sudah terlambat."Nggak perlu beli. Aku dan anakku sudah nggak butuh pendampinganmu lagi. Tolong minggir, aku masih harus pulang membimbing anak belajar."Selesai berkata demikian, aku mengangkat tangan mendorongnya, lalu dengan santai menghentikan sebuah taksi dan membawa putriku naik.Stevanus menatap punggungku. Dia sempat mengejar beberapa langkah, lalu perlahan berhenti dan akhirnya hanya berdiri di tempat sambil menatap kami pergi menjauh.Vonny membenamkan wajahnya di dadaku sambil mendengus pelan. Aku mengusap kepalanya dan bertanya lembut, "Kenapa, Sayang?"Vonny mencibir, "Kenapa Papa bisa menemukan kita?"Aku tersenyum. Hal itu memang sudah kuduga. Dengan latar belakang dan kemampuannya, mencari seseorang bukanlah hal yang sulit.Aku bertanya pada putriku, "Kalau begitu, Sayang mau pulang sama Papa?"Vonny langsung menggeleng keras. "Aku nggak mau pulang. Aku

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 7

    Setelah menikah dengan Stevanus duu, hanya karena dia berjanji akan menafkahiku, aku pun melepaskan kesempatan kerja untuk berkembang di Paris dan menjadi ibu rumah tangga dengan sepenuh hati. Namun belakangan aku baru menyadari, rasa aman dan sandaran seharusnya selalu berasal dari diri sendiri.Setelah meninggalkan Stevanus sekarang, aku akhirnya bisa kembali bersinar di bidang yang memang menjadi keahlianku.Aku tersenyum sambil menjabat tangan atasan itu dan berkata dengan mantap, "Aku akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan harapanmu."Setelah urusan kantor selesai, hari sudah menjelang sore. Jam pulang sekolah dasar di luar negeri relatif lebih awal, jadi aku langsung menuju gerbang sekolah untuk menjemput putriku.Namun di depan gerbang sekolah, aku malah bertemu seseorang yang sama sekali tidak kuduga.Stevanus berjalan ke arahku, lalu menarik tanganku dengan sikap memaksa. "Millie, ikut aku pulang."Sambil berkata demikian, dia hendak menyeretku ke arah mobil.

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 6

    Coco mendekat dengan penasaran. Begitu melihat isi layar, wajahnya langsung pucat. "Kak Stevanus, dengarkan penjelasanku ...."Stevanus mendadak berdiri, lalu mencengkeram lehernya dan menekannya ke dinding. "Kamu pura-pura sakit, memfitnah masakan Millie sampai mencelakakanmu. Semua itu cuma supaya aku meninggalkan mereka dan datang mencarimu?"Cengkeramannya menguat. Wajah Coco memucat dan matanya memerah saat membela diri. "Ng ... nggak bukan begitu! Kak Stevanus, pasti perempuan itu memalsukan fotonya! Pasti dia ingin mengadu domba hubungan kita!"Stevanus melepaskannya dengan kasar. Tubuh Coco limbung lalu terjatuh ke lantai sambil terengah-engah mengambil napas. Stevanus mengambil ponselnya dan berturut-turut meneleponku, tetapi aku tidak mengangkat satu pun. Dia menggenggam ponsel dengan erat, mengenakan mantel, lalu bergegas pulang ke rumah tanpa melirik Coco sedikit pun.Saat Stevanus tiba, rumah itu sudah kosong. Aku dan putriku telah pergi. Dia melangkah maju, pandangannya t

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 5

    Wajah Stevanus tampak cemas. "Coco menelepon, katanya perutnya sakit. Dia nggak makan pedas, mungkin karena masakan kemarin terlalu pedas. Aku harus pergi lihat dia."Hatiku menegang. Aku menarik lengan bajunya. "Dia sudah dewasa. Kalau sakit, dia bisa cari orang lain. Kita sudah lama menantikan Disney. Vonny sangat berharap bisa pergi bersamamu. Jangan lupa, kamu yang janji sama dia."Stevanus langsung menarik kembali tangannya dan mengerutkan kening. "Disney bisa pergi kapan saja. Tahun depan juga nggak masalah. Tapi ini soal nyawa manusia. Coco makan masakan yang kamu buat, gimana kalau sampai terjadi apa-apa?" Setelah berkata demikian, dia kembali hendak pergi.Aku menatap punggungnya, teringat sorot mata penuh harap putriku. Air mata langsung mengaburkan pandanganku."Stevanus!" Aku memanggilnya, lalu berlutut dengan tekad bulat.Stevanus terkejut. "Kamu ngapain? Cepat berdiri!""Sejak kecil sampai sekarang, Vonny nggak pernah benar-benar mendapatkan perhatian darimu. Dia selalu p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status