Share

Bab 5

Author: Asmatala
Wajah Stevanus tampak cemas. "Coco menelepon, katanya perutnya sakit. Dia nggak makan pedas, mungkin karena masakan kemarin terlalu pedas. Aku harus pergi lihat dia."

Hatiku menegang. Aku menarik lengan bajunya. "Dia sudah dewasa. Kalau sakit, dia bisa cari orang lain. Kita sudah lama menantikan Disney. Vonny sangat berharap bisa pergi bersamamu. Jangan lupa, kamu yang janji sama dia."

Stevanus langsung menarik kembali tangannya dan mengerutkan kening. "Disney bisa pergi kapan saja. Tahun depan juga nggak masalah. Tapi ini soal nyawa manusia. Coco makan masakan yang kamu buat, gimana kalau sampai terjadi apa-apa?" Setelah berkata demikian, dia kembali hendak pergi.

Aku menatap punggungnya, teringat sorot mata penuh harap putriku. Air mata langsung mengaburkan pandanganku.

"Stevanus!" Aku memanggilnya, lalu berlutut dengan tekad bulat.

Stevanus terkejut. "Kamu ngapain? Cepat berdiri!"

"Sejak kecil sampai sekarang, Vonny nggak pernah benar-benar mendapatkan perhatian darimu. Dia selalu penurut. Kali ini kamu sendiri yang berjanji, bilang dia dapat bunga merah terbanyak di kelas dan ke Disney adalah hadiahnya. Aku mohon padamu, jangan ingkari janji. Temani dia pergi sekali ini saja, ya?"

Stevanus mengatupkan bibir, raut wajahnya ragu. Baru hendak berbicara, ponselnya berdering. Setelah membaca pesan, wajahnya menjadi serius.

"Coco bilang sakitnya sudah nggak tertahankan. Dalam keadaan seperti ini, bagaimana aku bisa tenang pergi ke Disney? Jangan pakai moral untuk menekanku!" Dia meraih tanganku hendak membantuku berdiri, tetapi Vonny tiba-tiba berlari keluar dan lebih dulu memapahku.

Tatapanku bertemu dengan mata putriku. Wajahnya pucat dan berlinang air mata. "Mama."

Lalu dia menoleh ke arah Stevanus. "Paman, aku tahu Bibi sedang nggak enak badan. Kamu cepat pergi saja. Aku nggak apa-apa. Disney nanti saja juga bisa."

Stevanus tertegun mendengar kata "Paman".

"Bukannya biasanya kamu manggil aku Papa? Nggak perlu sengaja memanggil Paman."

"Penyakit Coco parah. Setelah aku mengantarnya ke rumah sakit, kita ubah jadwal. Nanti aku temani kamu ke Disney."

Aku menatap punggung Stevanus yang pergi dan berkata pelan, "Kamu akan menyesal, Stevanus."

Stevanus mendengarnya, tetapi dia pergi tanpa menoleh sedikit pun. Pintu depan tertutup dengan suara benturan. Vonny tidak melihat ke arah Stevanus pergi, tangan kecilnya malah menepuk lututku pelan.

"Mama, aku nggak mau Mama memohon sama Paman demi aku. Aku akan sedih. Mama itu yang paling penting."

Mataku memerah. Aku memeluk putriku dengan erat. "Baik, Mama nggak akan seperti itu lagi."

Vonny membenamkan wajahnya di pelukanku, tubuhnya gemetar karena menangis. "Aku dengar semuanya tadi. Paman sangat menyukai Bibi itu. Selama aku bersama Mama, mau main di mana pun aku senang. Mama, ayo kita pergi."

Ucapan putriku membuat hatiku melunak. Aku mengusap air mata dan berkata dengan mantap, "Oke, Mama akan membawamu pergi sekarang."

Aku dan putriku menenteng koper, lalu meletakkan surat perjanjian cerai di atas piano.

Saat itu, pesan dari Coco masuk.

[ Millie, kamu benar-benar nggak berguna. Sudah melahirkan anak perempuan pun tetap nggak bisa menahan hatinya. Aku pura-pura sakit sedikit saja, dia langsung meninggalkan kalian dan datang mencariku. ]

Di foto itu, Stevanus sedang berada di dapur dan memasakkan sup untuknya.

Hatiku terasa pahit, tetapi tidak lagi dipenuhi rasa sakit seperti dulu. Aku dan putriku tidak akan menangisi dia lagi.

Aku mengambil tangkapan layar percakapan itu, lalu memotret surat perjanjian cerai, dan mengirimkannya sekaligus kepada Stevanus.

[ Aku tahu orang yang ingin kamu dampingi seumur hidup adalah dia. Jangan lupa tanda tangan surat cerai. Aku merelakan kalian. ]

Di sisi lain, Stevanus membawa mangkuk sup keluar dari dapur. Adegan pagi tadi terus terbayang di kepalanya, membuat hatinya gelisah tanpa alasan jelas.

Coco duduk di meja makan, lalu menarik ujung bajunya dengan manja. "Kak Stevanus, aku tahu hari ini kamu seharusnya pergi liburan, tapi kamu masih menyempatkan diri datang menemaniku. Terima kasih sekali."

Stevanus menjawab singkat, tetapi kegelisahan di hatinya justru semakin kuat.

Saat itu ponselnya berdering, sebuah pesan masuk. Dia membuka layar dan hanya melihat satu foto serta satu kalimat.

[ Aku tahu orang yang ingin kamu dampingi seumur hidup adalah dia. Jangan lupa tanda tangan surat cerai. Aku merelakan kalian. ]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 10

    Atasan sangat mengapresiasiku. Aku terus mendapat kenaikan jabatan dan gaji, pindah dari rumah kecil ke rumah yang lebih besar. Vonny sangat cerdas dan juga rajin. Tak butuh waktu lama baginya untuk menonjol di antara para siswa lainnya. Aku dan Vonny perlahan melupakan semua kenangan tidak menyenangkan itu dalam kehidupan kami sendiri.Hingga pada tahun berikutnya, di hari kelas praktik Vonny, aku menemaninya berjalan santai di jalanan Paris. Vonny berkata dia perlu berfoto dengan seorang warga negara asal kami.Aku menatap sekeliling. Di jalanan penuh pria dan wanita berambut pirang dan bermata biru, aku jadi agak bingung. "Kalau begitu, sepertinya kita harus ke tempat yang agak jauh."Vonny menunjuk ke arah seorang wanita bertopi tidak jauh dari sana. "Itu orang negara asal kita, bukan?"Wanita itu memakai masker dan kacamata, rambut panjang hitamnya terlihat, gerak-geriknya mencurigakan. Vonny mengangkat kamera dan berlari ke arahnya dengan bersemangat. Perasaanku langsung tidak en

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 9

    Aku menatapnya dengan senyum yang samar dan mata sedikit menyipit. "Stevanus, aku baru sadar kamu benar-benar sangat merasa dirimu paling benar. Apa kamu pikir semua luka yang kamu timbulkan padaku bisa lunas hanya dengan sepatah kata maaf?"Stevanus jarang sekali terdiam seperti itu. Setelah sesaat, dia kembali membuka mulut. "Aku bisa memberimu kompensasi. Apa pun yang kamu mau, aku bisa memenuhinya."Aku mengangkat kepala, tiba-tiba teringat kejadian belum lama ini, lalu tersenyum penuh makna. "Kalau begitu, berlututlah padaku."Begitu mendengar ucapanku, wajah Stevanus langsung menggelap. "Millie, jangan keterlaluan."Aku tertawa mengejek. "Kenapa? Hal yang bisa kulakukan, masa kamu nggak bisa melakukannya?"Sepertinya kata-kataku juga membangkitkan ingatannya akan kejadian itu. Wajahnya makin muram. Melihat dia lama tak bergerak, aku menghela napas pelan dengan nada menyesal.'Benar juga. Orang seangkuh Stevanus, bagaimana mungkin mau melakukan hal seperti itu?'Aku pun menoleh da

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 8

    Stevanus, ternyata kamu benar-benar menyesal. Sayangnya, kesempatan sudah kami berikan sebelumnya. Sekarang, semuanya sudah terlambat."Nggak perlu beli. Aku dan anakku sudah nggak butuh pendampinganmu lagi. Tolong minggir, aku masih harus pulang membimbing anak belajar."Selesai berkata demikian, aku mengangkat tangan mendorongnya, lalu dengan santai menghentikan sebuah taksi dan membawa putriku naik.Stevanus menatap punggungku. Dia sempat mengejar beberapa langkah, lalu perlahan berhenti dan akhirnya hanya berdiri di tempat sambil menatap kami pergi menjauh.Vonny membenamkan wajahnya di dadaku sambil mendengus pelan. Aku mengusap kepalanya dan bertanya lembut, "Kenapa, Sayang?"Vonny mencibir, "Kenapa Papa bisa menemukan kita?"Aku tersenyum. Hal itu memang sudah kuduga. Dengan latar belakang dan kemampuannya, mencari seseorang bukanlah hal yang sulit.Aku bertanya pada putriku, "Kalau begitu, Sayang mau pulang sama Papa?"Vonny langsung menggeleng keras. "Aku nggak mau pulang. Aku

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 7

    Setelah menikah dengan Stevanus duu, hanya karena dia berjanji akan menafkahiku, aku pun melepaskan kesempatan kerja untuk berkembang di Paris dan menjadi ibu rumah tangga dengan sepenuh hati. Namun belakangan aku baru menyadari, rasa aman dan sandaran seharusnya selalu berasal dari diri sendiri.Setelah meninggalkan Stevanus sekarang, aku akhirnya bisa kembali bersinar di bidang yang memang menjadi keahlianku.Aku tersenyum sambil menjabat tangan atasan itu dan berkata dengan mantap, "Aku akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan harapanmu."Setelah urusan kantor selesai, hari sudah menjelang sore. Jam pulang sekolah dasar di luar negeri relatif lebih awal, jadi aku langsung menuju gerbang sekolah untuk menjemput putriku.Namun di depan gerbang sekolah, aku malah bertemu seseorang yang sama sekali tidak kuduga.Stevanus berjalan ke arahku, lalu menarik tanganku dengan sikap memaksa. "Millie, ikut aku pulang."Sambil berkata demikian, dia hendak menyeretku ke arah mobil.

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 6

    Coco mendekat dengan penasaran. Begitu melihat isi layar, wajahnya langsung pucat. "Kak Stevanus, dengarkan penjelasanku ...."Stevanus mendadak berdiri, lalu mencengkeram lehernya dan menekannya ke dinding. "Kamu pura-pura sakit, memfitnah masakan Millie sampai mencelakakanmu. Semua itu cuma supaya aku meninggalkan mereka dan datang mencarimu?"Cengkeramannya menguat. Wajah Coco memucat dan matanya memerah saat membela diri. "Ng ... nggak bukan begitu! Kak Stevanus, pasti perempuan itu memalsukan fotonya! Pasti dia ingin mengadu domba hubungan kita!"Stevanus melepaskannya dengan kasar. Tubuh Coco limbung lalu terjatuh ke lantai sambil terengah-engah mengambil napas. Stevanus mengambil ponselnya dan berturut-turut meneleponku, tetapi aku tidak mengangkat satu pun. Dia menggenggam ponsel dengan erat, mengenakan mantel, lalu bergegas pulang ke rumah tanpa melirik Coco sedikit pun.Saat Stevanus tiba, rumah itu sudah kosong. Aku dan putriku telah pergi. Dia melangkah maju, pandangannya t

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 5

    Wajah Stevanus tampak cemas. "Coco menelepon, katanya perutnya sakit. Dia nggak makan pedas, mungkin karena masakan kemarin terlalu pedas. Aku harus pergi lihat dia."Hatiku menegang. Aku menarik lengan bajunya. "Dia sudah dewasa. Kalau sakit, dia bisa cari orang lain. Kita sudah lama menantikan Disney. Vonny sangat berharap bisa pergi bersamamu. Jangan lupa, kamu yang janji sama dia."Stevanus langsung menarik kembali tangannya dan mengerutkan kening. "Disney bisa pergi kapan saja. Tahun depan juga nggak masalah. Tapi ini soal nyawa manusia. Coco makan masakan yang kamu buat, gimana kalau sampai terjadi apa-apa?" Setelah berkata demikian, dia kembali hendak pergi.Aku menatap punggungnya, teringat sorot mata penuh harap putriku. Air mata langsung mengaburkan pandanganku."Stevanus!" Aku memanggilnya, lalu berlutut dengan tekad bulat.Stevanus terkejut. "Kamu ngapain? Cepat berdiri!""Sejak kecil sampai sekarang, Vonny nggak pernah benar-benar mendapatkan perhatian darimu. Dia selalu p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status