Share

Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana
Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana
Author: Asmatala

Bab 1

Author: Asmatala
Sejak menikah dengan Stevanus, dia benar-benar menahan diri demi aku dan memutus semua hubungan dengan wanita-wanita di luar sana. Semua orang iri padaku, menganggap aku pandai mengendalikan suami dan memiliki keluarga yang harmonis.

Hingga pada hari peringatan pernikahan kami yang ke-9, tanpa sengaja aku melihat pesan grup obrolannya dengan para sahabatnya.

[ Van, kemarin sama adik tingkat di dalam Bentley, pengalamannya lumayan ya? ]

[ Aku sudah coba dengannya di segala situasi, dia cinta mati sama aku sampai nggak bisa melepaskan diri. ]

Di bawahnya terlampir foto-foto mesra mereka dan grup itu dipenuhi sorak sorai serta ucapan selamat, mendoakan agar hubungan mereka langgeng.

Aku menatap layar ponsel, rasa sakit yang menyesakkan memenuhi dadaku. Ternyata semua waktu bahagia yang kujalani bersamanya hanyalah sebuah sandiwara yang dirancang dengan saksama.

Aku terduduk kosong semalaman, hingga akhirnya menunggu Stevanus yang pulang larut. Melihat kue perayaan yang dia bawa di tangannya, aku tak bisa menahan diri untuk mencibir dingin, "Aku sudah tahu semuanya. Kamu nggak capek terus berpura-pura?"

....

"Apa kamu bilang? Cerai?" Tatapan mata Stevanus yang dalam menyiratkan secercah ejekan.

"Hari ini aku sengaja meluangkan waktu untuk menemanimu merayakan hari jadi. Jangan bikin aku marah."

Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah jam tangan indah dari kotak hadiah, lalu berpura-pura hendak memakaikannya di pergelangan tanganku. "Hadiah hari jadi pernikahan."

Desain dial jam tangan itu unik, dengan tali yang berkilau lembut. Namun, hanya sekilas saja aku sudah mengenalinya. Itu adalah barang lelang kelas atas yang dulu dibeli Stevanus bersama adik tingkatnya saat menghadiri sebuah acara eksklusif.

Dulu, apa pun yang diberikan Stevanus padaku, meski hanya bunga liar yang dipetik sembarangan di pinggir jalan, akan kuanggap sebagai harta berharga dan kusimpan dengan penuh perhatian. Kini, aku malah menghindari tangannya. "Nggak perlu dipakaikan, taruh saja."

Stevanus mengerutkan alis, menahan emosinya sambil menjelaskan, "Kamu aneh sekali hari ini. Kamu marah karena aku pulang terlambat? Kucing peliharaan Coco hilang, dia panik sendirian. Aku mencarinya lama sekali sampai akhirnya ketemu, makanya terlambat merayakan hari jadi."

Coco adalah adik tingkat Stevanus. Perempuan yang katanya sudah mencoba segalanya dengannya.

Aku menatapnya tanpa berkedip. Dulu, anjing kecil yang kami pelihara pernah jatuh sakit. Waktu itu, anjing kami tiba-tiba muntah dan diare, aku panik bukan main dan tidak tahu harus berbuat apa. Tanpa sadar aku meneleponnya minta bantuan, tetapi dia menjawab dengan tidak sabar.

"Cuma anjing, 'kan? Bawa sendiri ke dokter hewan. Urusan sepele begini jangan terus menggangguku, aku lagi bahas bisnis penting."

Aku menahan air mata dan membawa anjing itu ke beberapa klinik hewan sendirian, menemaninya infus dan merawatnya berhari-hari sampai akhirnya sembuh.

Sekarang, sama-sama soal hewan peliharaan. Dia malah rela melewatkan hari jadi pernikahan kami demi membantu Coco mencari kucing.

Stevanus menyipitkan mata. "Kamu sekarang mau mengungkit masa lalu denganku? Kenapa? Merasa aku kurang menjagamu atau uang yang kuberikan kurang?"

"Yang menikah denganku itu kamu. Yang melahirkan anak untukku juga kamu. Status dan uang semuanya sudah kuberikan. Coco punya apa? Atas dasar apa kamu bicara sinis seperti ini sama aku?"

Ucapannya terdengar di telingaku. Aku bahkan belum sempat bereaksi, tetapi jantungku sudah terasa menciut dengan keras. Aku menatapnya tanpa berkedip.

Aku paham sekarang. Maksudnya adalah, setelah aku mengambil posisi sebagai istrinya, aku tidak seharusnya lagi menuntut cinta dan perhatiannya.

Begitu kata-kata itu terucap, wajah Stevanus juga menjadi lebih muram. Seolah menyadari bahwa ucapannya terlalu kasar, nadanya pun melunak. "Sudahlah. Pergi panggil Vonny keluar. Kita buka sebotol anggur merah, rayakan hari jadi ini dengan senang-senang."

Sambil berkata demikian, dia membuka sebotol anggur merah mahal dengan cekatan, menuangkan segelas, lalu menyodorkannya kepadaku.

Setiap kali selesai bertengkar dengan Stevanus, dia selalu melakukan satu hal kecil untuk membujukku. Aku hanya perlu menerima jalan keluar yang dia berikan, dan semuanya akan berlalu begitu saja.

Selama sepuluh tahun, inilah kesepahaman antara aku dan Stevanus.

Namun sekarang, aku sudah tidak ingin lagi mengikuti kesepakatan seperti itu. Aku pun mengangkat tangan dan mendorong gelas anggur yang dia sodorkan. Namun, dia mengira aku hendak menerimanya dan seketika anggur merah itu tumpah ke lantai.

Aku tertegun sesaat.

Stevanus tertawa sinis, amarah yang tertahan jelas terpancar di matanya. "Kamu belum puas juga? Millie, semalaman aku sudah menahan diri menghadapi emosimu. Kalau kamu memang nggak mau merayakan hari jadi ini, kalau begitu kita nggak usah rayakan saja sama sekali."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 10

    Atasan sangat mengapresiasiku. Aku terus mendapat kenaikan jabatan dan gaji, pindah dari rumah kecil ke rumah yang lebih besar. Vonny sangat cerdas dan juga rajin. Tak butuh waktu lama baginya untuk menonjol di antara para siswa lainnya. Aku dan Vonny perlahan melupakan semua kenangan tidak menyenangkan itu dalam kehidupan kami sendiri.Hingga pada tahun berikutnya, di hari kelas praktik Vonny, aku menemaninya berjalan santai di jalanan Paris. Vonny berkata dia perlu berfoto dengan seorang warga negara asal kami.Aku menatap sekeliling. Di jalanan penuh pria dan wanita berambut pirang dan bermata biru, aku jadi agak bingung. "Kalau begitu, sepertinya kita harus ke tempat yang agak jauh."Vonny menunjuk ke arah seorang wanita bertopi tidak jauh dari sana. "Itu orang negara asal kita, bukan?"Wanita itu memakai masker dan kacamata, rambut panjang hitamnya terlihat, gerak-geriknya mencurigakan. Vonny mengangkat kamera dan berlari ke arahnya dengan bersemangat. Perasaanku langsung tidak en

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 9

    Aku menatapnya dengan senyum yang samar dan mata sedikit menyipit. "Stevanus, aku baru sadar kamu benar-benar sangat merasa dirimu paling benar. Apa kamu pikir semua luka yang kamu timbulkan padaku bisa lunas hanya dengan sepatah kata maaf?"Stevanus jarang sekali terdiam seperti itu. Setelah sesaat, dia kembali membuka mulut. "Aku bisa memberimu kompensasi. Apa pun yang kamu mau, aku bisa memenuhinya."Aku mengangkat kepala, tiba-tiba teringat kejadian belum lama ini, lalu tersenyum penuh makna. "Kalau begitu, berlututlah padaku."Begitu mendengar ucapanku, wajah Stevanus langsung menggelap. "Millie, jangan keterlaluan."Aku tertawa mengejek. "Kenapa? Hal yang bisa kulakukan, masa kamu nggak bisa melakukannya?"Sepertinya kata-kataku juga membangkitkan ingatannya akan kejadian itu. Wajahnya makin muram. Melihat dia lama tak bergerak, aku menghela napas pelan dengan nada menyesal.'Benar juga. Orang seangkuh Stevanus, bagaimana mungkin mau melakukan hal seperti itu?'Aku pun menoleh da

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 8

    Stevanus, ternyata kamu benar-benar menyesal. Sayangnya, kesempatan sudah kami berikan sebelumnya. Sekarang, semuanya sudah terlambat."Nggak perlu beli. Aku dan anakku sudah nggak butuh pendampinganmu lagi. Tolong minggir, aku masih harus pulang membimbing anak belajar."Selesai berkata demikian, aku mengangkat tangan mendorongnya, lalu dengan santai menghentikan sebuah taksi dan membawa putriku naik.Stevanus menatap punggungku. Dia sempat mengejar beberapa langkah, lalu perlahan berhenti dan akhirnya hanya berdiri di tempat sambil menatap kami pergi menjauh.Vonny membenamkan wajahnya di dadaku sambil mendengus pelan. Aku mengusap kepalanya dan bertanya lembut, "Kenapa, Sayang?"Vonny mencibir, "Kenapa Papa bisa menemukan kita?"Aku tersenyum. Hal itu memang sudah kuduga. Dengan latar belakang dan kemampuannya, mencari seseorang bukanlah hal yang sulit.Aku bertanya pada putriku, "Kalau begitu, Sayang mau pulang sama Papa?"Vonny langsung menggeleng keras. "Aku nggak mau pulang. Aku

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 7

    Setelah menikah dengan Stevanus duu, hanya karena dia berjanji akan menafkahiku, aku pun melepaskan kesempatan kerja untuk berkembang di Paris dan menjadi ibu rumah tangga dengan sepenuh hati. Namun belakangan aku baru menyadari, rasa aman dan sandaran seharusnya selalu berasal dari diri sendiri.Setelah meninggalkan Stevanus sekarang, aku akhirnya bisa kembali bersinar di bidang yang memang menjadi keahlianku.Aku tersenyum sambil menjabat tangan atasan itu dan berkata dengan mantap, "Aku akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan harapanmu."Setelah urusan kantor selesai, hari sudah menjelang sore. Jam pulang sekolah dasar di luar negeri relatif lebih awal, jadi aku langsung menuju gerbang sekolah untuk menjemput putriku.Namun di depan gerbang sekolah, aku malah bertemu seseorang yang sama sekali tidak kuduga.Stevanus berjalan ke arahku, lalu menarik tanganku dengan sikap memaksa. "Millie, ikut aku pulang."Sambil berkata demikian, dia hendak menyeretku ke arah mobil.

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 6

    Coco mendekat dengan penasaran. Begitu melihat isi layar, wajahnya langsung pucat. "Kak Stevanus, dengarkan penjelasanku ...."Stevanus mendadak berdiri, lalu mencengkeram lehernya dan menekannya ke dinding. "Kamu pura-pura sakit, memfitnah masakan Millie sampai mencelakakanmu. Semua itu cuma supaya aku meninggalkan mereka dan datang mencarimu?"Cengkeramannya menguat. Wajah Coco memucat dan matanya memerah saat membela diri. "Ng ... nggak bukan begitu! Kak Stevanus, pasti perempuan itu memalsukan fotonya! Pasti dia ingin mengadu domba hubungan kita!"Stevanus melepaskannya dengan kasar. Tubuh Coco limbung lalu terjatuh ke lantai sambil terengah-engah mengambil napas. Stevanus mengambil ponselnya dan berturut-turut meneleponku, tetapi aku tidak mengangkat satu pun. Dia menggenggam ponsel dengan erat, mengenakan mantel, lalu bergegas pulang ke rumah tanpa melirik Coco sedikit pun.Saat Stevanus tiba, rumah itu sudah kosong. Aku dan putriku telah pergi. Dia melangkah maju, pandangannya t

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 5

    Wajah Stevanus tampak cemas. "Coco menelepon, katanya perutnya sakit. Dia nggak makan pedas, mungkin karena masakan kemarin terlalu pedas. Aku harus pergi lihat dia."Hatiku menegang. Aku menarik lengan bajunya. "Dia sudah dewasa. Kalau sakit, dia bisa cari orang lain. Kita sudah lama menantikan Disney. Vonny sangat berharap bisa pergi bersamamu. Jangan lupa, kamu yang janji sama dia."Stevanus langsung menarik kembali tangannya dan mengerutkan kening. "Disney bisa pergi kapan saja. Tahun depan juga nggak masalah. Tapi ini soal nyawa manusia. Coco makan masakan yang kamu buat, gimana kalau sampai terjadi apa-apa?" Setelah berkata demikian, dia kembali hendak pergi.Aku menatap punggungnya, teringat sorot mata penuh harap putriku. Air mata langsung mengaburkan pandanganku."Stevanus!" Aku memanggilnya, lalu berlutut dengan tekad bulat.Stevanus terkejut. "Kamu ngapain? Cepat berdiri!""Sejak kecil sampai sekarang, Vonny nggak pernah benar-benar mendapatkan perhatian darimu. Dia selalu p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status