LOGINSejak menikah dengan Stevanus, dia benar-benar menahan diri demi aku dan memutus semua hubungan dengan wanita-wanita di luar sana. Semua orang iri padaku, menganggap aku pandai mengendalikan suami dan memiliki keluarga yang harmonis. Hingga pada hari peringatan pernikahan kami yang ke-9, tanpa sengaja aku melihat pesan grup obrolannya dengan para sahabatnya. [ Van, kemarin sama adik tingkat di dalam Bentley, pengalamannya lumayan ya? ] [ Aku sudah coba dengannya di segala situasi, dia cinta mati sama aku sampai nggak bisa melepaskan diri. ] Di bawahnya terlampir foto-foto mesra mereka dan grup itu dipenuhi sorak sorai serta ucapan selamat, mendoakan agar hubungan mereka langgeng. Aku menatap layar ponsel, rasa sakit yang menyesakkan memenuhi dadaku. Ternyata semua waktu bahagia yang kujalani bersamanya hanyalah sebuah sandiwara yang dirancang dengan saksama. Aku terduduk kosong semalaman, hingga akhirnya menunggu Stevanus yang pulang larut. Melihat kue perayaan yang dia bawa di tangannya, aku tak bisa menahan diri untuk mencibir dingin, "Aku sudah tahu semuanya. Kamu nggak capek terus berpura-pura?"
View MorePrologue
A clash, bang sound echoed...
BLANKO ang aking mga paningin. Nakatingalang sinundan ko ng tingin ang kabibili ko palang na libro mula sa National Book Store sa SM. A book written by my favorite author, PHANTOM.
As I looked at the book flying in midair, out of nowhere, I asked myself...
..
.
Is this it?
..
.
Am I...
..
.
Am I going to die as a virgin?
.
.."Hell no!" halos isigaw ng utak ko.
Mariin kong tanggi. Hindi ako makapapayag na mamamatay nalang akong hindi nakakatikim ng nakakatakam na sausage!
As in man sausage, either black, brown, pink or pale white, local or imported, I couldn't care as long as mahaba, malaki at matigas, ganern!
Pilit kong nilabanan na tila gusto kong kalapin lahat ng chakra ko sa katawan 'yong pang Naruto lang ang lakaran pero hindi eh-tumanggi ang katawan ko't tuluyan na akong sumalpak at napatihaya sa kalsada kasabay din niyon ang pagbagsak ng libro kong dala na tumilapon sa ere.
Saglit nakarinig ako ng mga busina ng mga sasakyan, ang paligid ay nagkakagulo. Maraming mga yabag ang papalapit sa akin.
Mga iba't ibang hitsura ng mga estranghero ang dumulog sa kinaroroonan ko upang tingnan akong nakatihaya sa gitna ng kalsada.
Kung pwede mamatay out of embarrassment eh kusa na akong sasama sa grim reaper ba't hindi eh. May layunin pa ako.
"Call 911!" sigaw ng isa.
"Putang ina walang ganyang emergency sa bansa!"
"Meron na! Bagong pamalakad ni former President Duterte!"
Lihim akong napamura sa narinig, may gana pang magdebate ang mga kumag nato eh mamatay na 'yong tao. Parang di-nag grade two ang mga to'.
Saglit ay may isang dumulog sa akin. lumuhod at yumukong inilapit ang mukha. Hindi ko maaninag ang hitsura nito dahil lumalabo na ang paningin ko o dahil sa sinag ng araw sa tanghaling tapat.
The man's silhouette is intimidating yet perfectly fine.
"Miss, okey ka lang?" the voice is too deep, very baritone. Too good to be true.
Ito na ba si San Pedro o ang gwapong grim reaper mula sa korean drama? Malamang ito na nga! Sinusundo na ako!
"Miss?"
Pinilit kong ibuka ang bibig ko ngunit walang ibig lumabas kahit ungol man lang.
Damn! My back hurts like hell! Mamatay na ba talaga ako? Hindi ako makapapayag! I still want to know what sausage tastes like and how it feels! I want sausage!
"I w-waant sausage," hindi ko namamalayang lumabas iyon sa bibig ko.
"Sorry? Ano 'yon? Hindi ko masyadong narinig!" saad ng lalaking may magandang boses, si San Pedro ba 'yon? Malamang!
"I want sausaaggee, a big and hard sausage," paungol na deklara ko hanggang sa unti-unting nagdilim ang paningin ko at nawalan ng ulirat.
Atasan sangat mengapresiasiku. Aku terus mendapat kenaikan jabatan dan gaji, pindah dari rumah kecil ke rumah yang lebih besar. Vonny sangat cerdas dan juga rajin. Tak butuh waktu lama baginya untuk menonjol di antara para siswa lainnya. Aku dan Vonny perlahan melupakan semua kenangan tidak menyenangkan itu dalam kehidupan kami sendiri.Hingga pada tahun berikutnya, di hari kelas praktik Vonny, aku menemaninya berjalan santai di jalanan Paris. Vonny berkata dia perlu berfoto dengan seorang warga negara asal kami.Aku menatap sekeliling. Di jalanan penuh pria dan wanita berambut pirang dan bermata biru, aku jadi agak bingung. "Kalau begitu, sepertinya kita harus ke tempat yang agak jauh."Vonny menunjuk ke arah seorang wanita bertopi tidak jauh dari sana. "Itu orang negara asal kita, bukan?"Wanita itu memakai masker dan kacamata, rambut panjang hitamnya terlihat, gerak-geriknya mencurigakan. Vonny mengangkat kamera dan berlari ke arahnya dengan bersemangat. Perasaanku langsung tidak en
Aku menatapnya dengan senyum yang samar dan mata sedikit menyipit. "Stevanus, aku baru sadar kamu benar-benar sangat merasa dirimu paling benar. Apa kamu pikir semua luka yang kamu timbulkan padaku bisa lunas hanya dengan sepatah kata maaf?"Stevanus jarang sekali terdiam seperti itu. Setelah sesaat, dia kembali membuka mulut. "Aku bisa memberimu kompensasi. Apa pun yang kamu mau, aku bisa memenuhinya."Aku mengangkat kepala, tiba-tiba teringat kejadian belum lama ini, lalu tersenyum penuh makna. "Kalau begitu, berlututlah padaku."Begitu mendengar ucapanku, wajah Stevanus langsung menggelap. "Millie, jangan keterlaluan."Aku tertawa mengejek. "Kenapa? Hal yang bisa kulakukan, masa kamu nggak bisa melakukannya?"Sepertinya kata-kataku juga membangkitkan ingatannya akan kejadian itu. Wajahnya makin muram. Melihat dia lama tak bergerak, aku menghela napas pelan dengan nada menyesal.'Benar juga. Orang seangkuh Stevanus, bagaimana mungkin mau melakukan hal seperti itu?'Aku pun menoleh da
Stevanus, ternyata kamu benar-benar menyesal. Sayangnya, kesempatan sudah kami berikan sebelumnya. Sekarang, semuanya sudah terlambat."Nggak perlu beli. Aku dan anakku sudah nggak butuh pendampinganmu lagi. Tolong minggir, aku masih harus pulang membimbing anak belajar."Selesai berkata demikian, aku mengangkat tangan mendorongnya, lalu dengan santai menghentikan sebuah taksi dan membawa putriku naik.Stevanus menatap punggungku. Dia sempat mengejar beberapa langkah, lalu perlahan berhenti dan akhirnya hanya berdiri di tempat sambil menatap kami pergi menjauh.Vonny membenamkan wajahnya di dadaku sambil mendengus pelan. Aku mengusap kepalanya dan bertanya lembut, "Kenapa, Sayang?"Vonny mencibir, "Kenapa Papa bisa menemukan kita?"Aku tersenyum. Hal itu memang sudah kuduga. Dengan latar belakang dan kemampuannya, mencari seseorang bukanlah hal yang sulit.Aku bertanya pada putriku, "Kalau begitu, Sayang mau pulang sama Papa?"Vonny langsung menggeleng keras. "Aku nggak mau pulang. Aku
Setelah menikah dengan Stevanus duu, hanya karena dia berjanji akan menafkahiku, aku pun melepaskan kesempatan kerja untuk berkembang di Paris dan menjadi ibu rumah tangga dengan sepenuh hati. Namun belakangan aku baru menyadari, rasa aman dan sandaran seharusnya selalu berasal dari diri sendiri.Setelah meninggalkan Stevanus sekarang, aku akhirnya bisa kembali bersinar di bidang yang memang menjadi keahlianku.Aku tersenyum sambil menjabat tangan atasan itu dan berkata dengan mantap, "Aku akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan harapanmu."Setelah urusan kantor selesai, hari sudah menjelang sore. Jam pulang sekolah dasar di luar negeri relatif lebih awal, jadi aku langsung menuju gerbang sekolah untuk menjemput putriku.Namun di depan gerbang sekolah, aku malah bertemu seseorang yang sama sekali tidak kuduga.Stevanus berjalan ke arahku, lalu menarik tanganku dengan sikap memaksa. "Millie, ikut aku pulang."Sambil berkata demikian, dia hendak menyeretku ke arah mobil.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.