Share

Bab 3

Author: Asmatala
Aku mengangkat kepala dan melihat seorang gadis muda di samping Stevanus yang tampak rapuh dan menawan sedang berdiri di ambang pintu. Dialah Coco. Dia mengedipkan mata ke arah kami sambil berkata, "Kak Stevanus ajak aku ke rumah untuk makan. Kakak Ipar nggak keberatan, 'kan?"

Stevanus menimpali, "Cuma sekalian. Dia nggak keberatan."

Belum sempat aku membuka mulut, Stevanus sudah membawa Coco masuk ke ruang tamu. Dari awal sampai akhir, dia sama sekali tidak melirikku. Aku bahkan tidak bisa membedakan, apakah dia memang selalu mengabaikanku seperti dulu atau masih kesal karena sikapku padanya kemarin.

Vonny berlari kecil mengikuti mereka sambil membawa buku not balok, lalu berdiri di samping sofa dengan wajah penuh harap menatap Stevanus. "Papa, aku baru belajar satu lagu piano. Boleh aku mainkan untuk Papa?"

Stevanus mengusap kepala putrinya dan berkata dengan nada puas, "Boleh."

Vonny menata lembaran not dengan gembira. Coco pun ikut mendekat. "Lagu ini dulu aku juga pernah belajar. Adik kecil, gimana kalau kita mainkan bersama untuk Papa?"

Vonny mengerutkan kening. Namun sebelum sempat menolak, Coco sudah duduk di bangku piano dengan penuh semangat dan mendorong Vonny ke samping.

Pada saat itu, ketika Coco berdiri, sikunya tanpa sengaja menyenggol vas bunga di atas meja. Vas itu jatuh dan pecah, serpihan porselen beterbangan ke mana-mana. Vonny refleks mundur ke belakang, tetapi tanpa sengaja kakinya tergores pecahan di lantai.

Stevanus refleks mengulurkan tangan melindungi Coco, tubuhnya menghalangi di depannya. Pakaiannya menyenggol lembaran not di atas piano hingga semuanya berhamburan ke lantai.

Coco menatap Stevanus, air matanya langsung jatuh. "Kak Stevanus ...."

Stevanus segera menariknya dan menenangkannya dengan suara pelan.

Sementara itu, aku segera keluar dari dapur begitu mendengar suara vas pecah. "Vonny, kamu nggak apa-apa?"

Aku berjongkok memeriksa kondisi putriku. Kakinya tergores pecahan porselen, darah mulai merembes keluar. "Sampai berdarah begini. Mama ajak kamu ke dalam untuk dibersihkan."

"Nggak apa-apa, Ma. Aku nggak sakit, cuma tergores sedikit saja."

Vonny menatapku, lalu tersenyum manis dengan wajah berusaha tegar. Dia kemudian membungkuk dan mengambil pensil gambar kesayangannya yang tertutup lembaran not. Pensil itu adalah hadiah yang dulu dibawakan Stevanus saat pulang dari perjalanan dinas. Vonny selalu menganggapnya sebagai harta karun dan hampir selalu menggunakannya setiap kali menggambar.

Namun sekarang, pensil itu sudah basah terkena air dari vas bunga, dan batangnya tergores beberapa bekas sayatan pecahan porselen. Air mata Vonny tiba-tiba tak tertahankan lagi, jatuh menetes di atas pensil itu.

"Ini pensil yang dikasih Papa. Papa bilang aku punya bakat menggambar, suruh aku pakai ini buat menggambar banyak gambar yang indah. Tapi sekarang ... sepertinya sudah rusak ...."

Karena itu hadiah dari Stevanus, putriku selalu menjaganya dengan sangat hati-hati, bahkan saat menggambar pun dia selalu waspada. Kini, pensil itu tanpa sengaja dirusak oleh ayahnya sendiri dan Coco. Bagi seorang anak, rasanya seperti sesuatu yang sangat berharga di hatinya hancur berkeping-keping.

Air mata putriku membakar dadaku, rasa sakitnya sampai membuatku sulit bernapas. Aku langsung memeluknya erat.

"Nggak apa-apa. Mama akan cari cara memperbaikinya. Setelah diperbaiki, pasti bisa dipakai lagi seperti semula."

Saat itu, Stevanus dan Coco berjalan mendekat. Coco melihat kami dan berkata dengan nada menyesal, "Maaf sekali ya, tadi aku nggak sengaja menyenggol vasnya. Adik kecilnya nggak terluka, 'kan?"

Baru saat itu Stevanus teringat pada putrinya. Ekspresinya langsung berubah. "Vonny, kamu nggak apa-apa tadi?"

"Kalau anakmu benar-benar kenapa-kenapa, sekarang baru kamu bertanya sudah terlambat. Kamu mau suka siapa pun, itu urusanmu. Tapi Vonny adalah anakmu. Jangan terlalu pilih kasih."

Dia menatapku, alisnya semakin berkerut.

"Aku nggak apa-apa, Papa." Vonny tersenyum lebar, tangan kecilnya menarik ujung bajuku. "Aku agak lapar. Mama, ayo makan."

Mungkin karena merasa bersalah, Stevanus sendiri yang menggendong putrinya ke meja makan. Vonny senang bukan main. Hidangan di meja semuanya adalah makanan kesukaan aku dan anakku.

Melihat Coco menatap meja penuh makanan tanpa tahu harus mulai dari mana, Stevanus akhirnya angkat bicara, "Millie, Coco alergi telur dan kentang, juga nggak makan pedas atau asam. Kamu ke dapur lagi, buatkan dua lauk tambahan."

Kalau dulu, aku pasti langsung menurut. Di meja makan pun, biasanya selera dia dan anaklah yang selalu diutamakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 10

    Atasan sangat mengapresiasiku. Aku terus mendapat kenaikan jabatan dan gaji, pindah dari rumah kecil ke rumah yang lebih besar. Vonny sangat cerdas dan juga rajin. Tak butuh waktu lama baginya untuk menonjol di antara para siswa lainnya. Aku dan Vonny perlahan melupakan semua kenangan tidak menyenangkan itu dalam kehidupan kami sendiri.Hingga pada tahun berikutnya, di hari kelas praktik Vonny, aku menemaninya berjalan santai di jalanan Paris. Vonny berkata dia perlu berfoto dengan seorang warga negara asal kami.Aku menatap sekeliling. Di jalanan penuh pria dan wanita berambut pirang dan bermata biru, aku jadi agak bingung. "Kalau begitu, sepertinya kita harus ke tempat yang agak jauh."Vonny menunjuk ke arah seorang wanita bertopi tidak jauh dari sana. "Itu orang negara asal kita, bukan?"Wanita itu memakai masker dan kacamata, rambut panjang hitamnya terlihat, gerak-geriknya mencurigakan. Vonny mengangkat kamera dan berlari ke arahnya dengan bersemangat. Perasaanku langsung tidak en

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 9

    Aku menatapnya dengan senyum yang samar dan mata sedikit menyipit. "Stevanus, aku baru sadar kamu benar-benar sangat merasa dirimu paling benar. Apa kamu pikir semua luka yang kamu timbulkan padaku bisa lunas hanya dengan sepatah kata maaf?"Stevanus jarang sekali terdiam seperti itu. Setelah sesaat, dia kembali membuka mulut. "Aku bisa memberimu kompensasi. Apa pun yang kamu mau, aku bisa memenuhinya."Aku mengangkat kepala, tiba-tiba teringat kejadian belum lama ini, lalu tersenyum penuh makna. "Kalau begitu, berlututlah padaku."Begitu mendengar ucapanku, wajah Stevanus langsung menggelap. "Millie, jangan keterlaluan."Aku tertawa mengejek. "Kenapa? Hal yang bisa kulakukan, masa kamu nggak bisa melakukannya?"Sepertinya kata-kataku juga membangkitkan ingatannya akan kejadian itu. Wajahnya makin muram. Melihat dia lama tak bergerak, aku menghela napas pelan dengan nada menyesal.'Benar juga. Orang seangkuh Stevanus, bagaimana mungkin mau melakukan hal seperti itu?'Aku pun menoleh da

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 8

    Stevanus, ternyata kamu benar-benar menyesal. Sayangnya, kesempatan sudah kami berikan sebelumnya. Sekarang, semuanya sudah terlambat."Nggak perlu beli. Aku dan anakku sudah nggak butuh pendampinganmu lagi. Tolong minggir, aku masih harus pulang membimbing anak belajar."Selesai berkata demikian, aku mengangkat tangan mendorongnya, lalu dengan santai menghentikan sebuah taksi dan membawa putriku naik.Stevanus menatap punggungku. Dia sempat mengejar beberapa langkah, lalu perlahan berhenti dan akhirnya hanya berdiri di tempat sambil menatap kami pergi menjauh.Vonny membenamkan wajahnya di dadaku sambil mendengus pelan. Aku mengusap kepalanya dan bertanya lembut, "Kenapa, Sayang?"Vonny mencibir, "Kenapa Papa bisa menemukan kita?"Aku tersenyum. Hal itu memang sudah kuduga. Dengan latar belakang dan kemampuannya, mencari seseorang bukanlah hal yang sulit.Aku bertanya pada putriku, "Kalau begitu, Sayang mau pulang sama Papa?"Vonny langsung menggeleng keras. "Aku nggak mau pulang. Aku

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 7

    Setelah menikah dengan Stevanus duu, hanya karena dia berjanji akan menafkahiku, aku pun melepaskan kesempatan kerja untuk berkembang di Paris dan menjadi ibu rumah tangga dengan sepenuh hati. Namun belakangan aku baru menyadari, rasa aman dan sandaran seharusnya selalu berasal dari diri sendiri.Setelah meninggalkan Stevanus sekarang, aku akhirnya bisa kembali bersinar di bidang yang memang menjadi keahlianku.Aku tersenyum sambil menjabat tangan atasan itu dan berkata dengan mantap, "Aku akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan harapanmu."Setelah urusan kantor selesai, hari sudah menjelang sore. Jam pulang sekolah dasar di luar negeri relatif lebih awal, jadi aku langsung menuju gerbang sekolah untuk menjemput putriku.Namun di depan gerbang sekolah, aku malah bertemu seseorang yang sama sekali tidak kuduga.Stevanus berjalan ke arahku, lalu menarik tanganku dengan sikap memaksa. "Millie, ikut aku pulang."Sambil berkata demikian, dia hendak menyeretku ke arah mobil.

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 6

    Coco mendekat dengan penasaran. Begitu melihat isi layar, wajahnya langsung pucat. "Kak Stevanus, dengarkan penjelasanku ...."Stevanus mendadak berdiri, lalu mencengkeram lehernya dan menekannya ke dinding. "Kamu pura-pura sakit, memfitnah masakan Millie sampai mencelakakanmu. Semua itu cuma supaya aku meninggalkan mereka dan datang mencarimu?"Cengkeramannya menguat. Wajah Coco memucat dan matanya memerah saat membela diri. "Ng ... nggak bukan begitu! Kak Stevanus, pasti perempuan itu memalsukan fotonya! Pasti dia ingin mengadu domba hubungan kita!"Stevanus melepaskannya dengan kasar. Tubuh Coco limbung lalu terjatuh ke lantai sambil terengah-engah mengambil napas. Stevanus mengambil ponselnya dan berturut-turut meneleponku, tetapi aku tidak mengangkat satu pun. Dia menggenggam ponsel dengan erat, mengenakan mantel, lalu bergegas pulang ke rumah tanpa melirik Coco sedikit pun.Saat Stevanus tiba, rumah itu sudah kosong. Aku dan putriku telah pergi. Dia melangkah maju, pandangannya t

  • Menjadi Suami Baik Di Rumah, Ternyata Liar Di Luar Sana   Bab 5

    Wajah Stevanus tampak cemas. "Coco menelepon, katanya perutnya sakit. Dia nggak makan pedas, mungkin karena masakan kemarin terlalu pedas. Aku harus pergi lihat dia."Hatiku menegang. Aku menarik lengan bajunya. "Dia sudah dewasa. Kalau sakit, dia bisa cari orang lain. Kita sudah lama menantikan Disney. Vonny sangat berharap bisa pergi bersamamu. Jangan lupa, kamu yang janji sama dia."Stevanus langsung menarik kembali tangannya dan mengerutkan kening. "Disney bisa pergi kapan saja. Tahun depan juga nggak masalah. Tapi ini soal nyawa manusia. Coco makan masakan yang kamu buat, gimana kalau sampai terjadi apa-apa?" Setelah berkata demikian, dia kembali hendak pergi.Aku menatap punggungnya, teringat sorot mata penuh harap putriku. Air mata langsung mengaburkan pandanganku."Stevanus!" Aku memanggilnya, lalu berlutut dengan tekad bulat.Stevanus terkejut. "Kamu ngapain? Cepat berdiri!""Sejak kecil sampai sekarang, Vonny nggak pernah benar-benar mendapatkan perhatian darimu. Dia selalu p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status