Sontak Elowen terkejut. Wajahnya buru-buru menunduk, jantungnya seperti kehilangan ritme sejenak. Namun Kael tidak melepaskan pandangannya. Tangannya berada di dagu Elowen, bukan untuk menahan, tapi untuk memastikan ia tidak menghindar.Mata mereka bertemu.Ada jeda yang panjang di antara mereka, bukan sekadar hening, tapi ruang bagi keraguan yang selama ini Elowen simpan rapat-rapat.Kael tidak memaksa. Ia hanya mendekat sedikit, cukup untuk memberi pilihan, bukan tekanan.Pelan, ia menyentuhkan bibirnya—lembut, nyaris seperti janji yang tidak ingin melukai.“I love you,” desis Kael sangat pelan, hampir tenggelam di antara napas mereka.Elowen terdiam.Namun tubuhnya tidak mundur.Hanya saja, tangannya sempat menegang di dada Kael—sebuah refleks dari sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang belum sepenuhnya sembuh.Kael langsung berhenti.Ia menarik diri sedikit, cukup untuk melihat wajah El
Read more