Pagi itu menggantung kelabu di atas Istana Valtorium, seolah langit menahan tangis yang tak sempat jatuh. Kabut tipis merayap di antara pilar-pilar batu, menyelimuti halaman yang biasanya riuh menjadi sunyi yang menekan. Bahkan burung-burung enggan bersuara, seakan memahami bahwa istana ini tengah berkabung—bukan karena kematian, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih mengerikan, pengkhianatan.Langkah kaki bergema pelan di lorong panjang. Teratur. Tenang. Penuh kendali.Gaun hitam yang dikenakan wanita itu berdesir halus, menyapu lantai marmer seperti bayangan duka yang hidup. Wajahnya tenang, terlalu tenang, dengan senyum tipis yang tak pernah benar-benar sampai ke matanya.“Yang Mulia Livia,” sapa seorang pelayan dengan kepala tertunduk dalam.Livia hanya mengangguk ringan, tanpa melambatkan langkahnya.“Bagaimana keadaan Kaisar Vorentis?”“Tuan Lucan sedang memeriksanya, Yang Mulia.”Tanpa
Read more