Elowen terbangun dengan napas tersentak, keringat dingin membasahi pelipisnya. Bayangan mimpi itu masih melekat. Darah, kabut, dan sosok Kael yang menjauh tanpa menoleh.Ia bangkit setengah duduk, dadanya naik turun tak beraturan, lalu suara itu pecah dari bibirnya sebelum sempat ia tahan.“Kael!”Seruannya menggema di kamar yang gelap, bergetar oleh ketakutan yang belum reda, sementara tangannya meremas seprai, seakan dengan menyebut namanya ia bisa menarik Kael kembali dari mimpi yang terlalu nyata.“Apa telah terjadi sesuatu padanya?” gumam Elowen.Ia bangkit dari kasur, tergesa mengenakan jubah tidur dan berjalan menatap langit malam dari balik jendela kamarnya. Ini sudah hari ketiga, harusnya senja ini Kael datang. Namun, nyatanya sampai lelah Elowen menanti, pria dingin itu tak kunjung datang.“Kamu di mana, Kael?”Lagi-lagi Elowen bermonolog sendiri. Benaknya sibuk berkelana sambil sesekali m
Terakhir Diperbarui : 2026-02-08 Baca selengkapnya