Tak sampai satu menit, pintu ruang kerja Zein terbuka.Liam masuk seperti biasa—rapi, sigap, penuh hormat. “Anda memanggil, Tuan?”“Duduk,” kata Zein singkat.Itu saja sudah cukup membuat Liam waspada. Zein jarang menyuruhnya duduk tanpa konteks jelas.Liam menarik kursi dan duduk tegak. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”Zein terdiam beberapa detik. Pandangannya turun ke meja, lalu ke arah dinding kaca, sebelum kembali ke depan. Untuk pertama kalinya, ia tampak bingung memilih kata.“Aku butuh informasi,” ucapnya akhirnya. Suaranya tetap datar. “Tentang kondisi fisik.”Liam mengangguk. “Kondisi siapa, Tuan?”Tatapan Zein melirik sekilas, tajam.“…seseorang.”Liam berkedip. Sekali kali, dua kali. “Baik, Tuan,” katanya akhirnya. “Kondisi seperti apa?”Zein menghela napas pendek, hampir tak terdengar.“Nyeri,” katanya. “Di bagian dada. Datangnya tiba-tiba. Bisa memburuk kalau diabaikan.”Liam terdiam.“Apakah akibat cedera?” tanyanya hati-hati.“Tidak.”“Penyakit tertentu?”Zein menggele
Terakhir Diperbarui : 2026-02-07 Baca selengkapnya