Lorong menuju ruang kerja Zein di mansion kembali sunyi. Langkah Zein mantap dan berirama tenang. Tak ada lagi sisa kegugupan di wajahnya, hanya ekspresi dingin khas sang pemilik rumah yang tersisa. Di belakangnya, Liam mengikuti dengan jarak satu langkah, membawa map hitam tipis di tangannya. Begitu pintu ruang kerja tertutup, Zein langsung melangkah ke mejanya. Namun, Liam menghentikannya. “Ini, Tuan,” ucap Liam sambil menyerahkan map itu. “Gambar yang Tuan minta saya simpan tadi.” Zein menerima tanpa berkata apa pun. Jemarinya menutup map itu perlahan. Sudut bibirnya bergerak samar, begitu tipis hingga nyaris tak terlihat. Namun Liam menangkapnya, dan itu membuatnya semakin penasaran. “Kalau boleh tahu, Tuan,” ucap Liam akhirnya, ragu namun tetap profesional, “apa ada nilai khusus dari gambar itu?” Zein yang hendak melangkah ke mejanya reflek menoleh setengah badan, menatap Liam dengan sorot mata datar—tajam, dingin, dan mampu mematikan rasa ingin tahu siapa pun. “Sejak kapa
Terakhir Diperbarui : 2026-02-02 Baca selengkapnya