INICIAR SESIÓNCakrawala malam di belahan Utara Beiyuan tersaput sunyi yang mencekam. Di sebuah kedai arak petang yang terpencil di sudut kota yang remang-remang, Fan Yi duduk menyendiri di ceruk ruangan. Pandangannya lurus menatap cawan arak di genggamannya, namun telinganya jeli menangkap setiap desas-desus yang dihantarkan oleh beberapa anak buahnya dari Gunung Yu yang menyusup bersamanya di jajaran Pasukan Beiyuan.Selama beberapa hari terakhir, Fan Yi bergerak bagai bayang dalam senyap. Ia menghimpun setiap serpihan informasi guna menyisir sisa-sisa sekutu lama Long Xuan. Misinya benderang: mengidentifikasi siapa saja perwira petinggi di militer Beiyuan saat ini yang dahulu karib dengan Long Xuan, dan yang terpenting, siapa di antara mereka yang masih merawat kesetiaan serta mendambakan kepemimpinan sang mantan ketua.Seorang anak buahnya melangkah mendekat, berpura-pura menuangkan sisa arak baru ke dalam cawan Fan Yi, lalu berbisik dengan teramat lirih. "Ketua, kami mengendus satu nama. Ketu
Keheningan perlahan merayap, menggantikan deru napas memburu yang beberapa saat lalu memenuhi kamar temaram itu. Aroma keringat, keintiman, dan sisa-sisa hawa magis yang pekat menguar di udara. Di atas ranjang kayu yang masih berderit pelan, Liya bergelung lemas dalam dekapan Long Xuan. Tubuhnya yang semula kaku dan dipenuhi urat-urat legam kini terasa begitu lembut, hangat, dan sepenuhnya pasrah.Long Xuan membelai punggung polos istrinya dengan gerakan ritmis yang menenangkan. Telapak tangan kekarnya meraba kulit mulus Liya, memastikan tidak ada lagi sisa-sisa denyut kutukan purba yang bersembunyi di balik pori-porinya. Kelegaan yang luar biasa membuncah di dadanya, namun di saat yang sama, sebuah benang merah di dalam benaknya mulai terajut. Sebuah realitas baru yang mengejutkan baru saja terbentang di depan mata mereka."Kau benar-benar tidak apa-apa, Shishi?" bisik Xuan, suaranya serak. Ia mengecup pucuk kepala Liya yang masih basah oleh peluh.Liya melenguh pelan, menyurukkan
"K-Kau ... yakin, Shishi?" Long Xuan tercekat, suaranya bergetar di tengah deru napas liar Liya. Netranya membelalak, menatap paras istrinya yang kian memerah padam dengan urat-urat legam yang menjalar kian ganas di ceruk lehernya. "Kondisimu sedang kacau, tubuhmu bisa terbakar jika gairahmu berbenturan dengan sirkulasi darah terkutuk itu!" "Jangan banyak bicara, Xuan! Lakukan ... ahh ... sekarang juga!" pekik Liya, jemarinya mencengkeram jubah Xuan hingga robek menjadi beberapa bagian. "Tekan ... tekan darah keparat ini dengan ragamu! Jangan biarkan makhluk di dalam diriku ini mengambil alih kesadaranku sepenuhnya!" "Baik, jika itu maumu! Aku akan membantumu menundukkannya!" seru Xuan, keputusasaannya menyatu dengan naluri jantannya yang bangkit. Nalar Long Xuan runtuh seketika. Tanpa membuang tempo lagi, ia merangsek maju. Ditangkupnya rahang Liya dengan kasar, lalu dihujamkannya sebuah ciuman yang sarat akan keputusasaan dan gairah yang membakar. Tidak ada kelembutan seperti
Long Xuan telah menerima berita dari Beiyuan tentang kematian Li Yang dan strategi yang akan dijalankan oleh Fan Yi. Kabar duka itu membakar tekadnya, membuat proses rekrutmen di Gunung Yu berjalan jauh lebih intens dari sebelumnya.Pagi itu, lapangan tengah Gunung Yu dipenuhi debu yang mengepul tinggi. Tiga ratus pria bertubuh kekar berdiri berbaris, masing-masing memikul karung rami besar yang berisi tanah padat."Dengar semuanya!" suara Long Xuan menggelegar, membelah kebisingan lapangan. "Gunung Yu tidak butuh pengecut! Jika kalian tidak bisa menahan beban ini, silakan angkat kaki sekarang!"Liya berjalan di samping suaminya, matanya menyisir barisan dengan sangat jeli. "Ingat aturan utama. Kalian dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil berisi lima orang. Kalian berangkat bersama, dan harus kembali dengan jumlah kelompok yang tidak berkurang! Jika satu orang tertinggal, seluruh kelompok gugur!""Bagaimana jika ada yang pingsan di jalan, Nyonya?!" teriak seorang peserta dari bar
Langkah kaki Fan Yi terasa berat saat ia meninggalkan ruang interogasi. Aroma darah Li Yang seolah menempel erat pada jubah militernya, meletupkan rasa sesak yang nyaris membuatnya berteriak. Namun, di bawah langit Beiyuan yang mulai menggelap, ia tidak boleh menunjukkan celah sedikit pun. Waktu terus berjalan, dan lonceng bahaya justru baru saja berbunyi di kepalanya.Su Lang dan yang lainnya, batin Fan Yi panik. Mereka harus dihentikan sekarang juga.Ia segera bergegas menuju barak luar wilayah Utara. Di sebuah gudang penyimpanan logistik yang remang-remang, tiga bayangan telah menunggunya di balik tumpukan karung gandum. Salah satu dari mereka adalah Su Lang, yang langsung maju dengan mata berbinar penuh harap begitu melihat Fan Yi masuk."Ketua Fan! Bagaimana kondisinya? Jalur barat sudah kami bersihkan dari patroli. Malam ini tepat jam dua, kita akan mendobrak penjara bawah tanah dan membawa Li Yang keluar," bisik Su Lang cepat, suaranya dipenuhi determinasi.Fan Yi tidak lan
Derap langkah Fan Yi menggema di sepanjang lorong lembap penjara bawah tanah Balai Kota Beiyuan. Kabar dari Su Lang, pasukan bandit Gunung Yu yang juga menyamar sebagai prajurit, masih terngiang jelas di telinganya: Li Yang tertangkap.Situasi ini adalah mimpi buruk. Li Yang bukan sekadar rekan, ia adalah kunci. Jika interogasi Murong Xie berhasil mematahkan semangat Li Yang, seluruh jaringan penyusup Bandit Gunung Yu yang telah dibangun akan runtuh dalam semalam. Eksekusi massal akan menanti mereka semua sebelum rencana besar Ketua mereka sempat dimulai."Kau tampak tegang, Kapten Fan," suara serak seorang penjaga di sampingnya membuyarkan lamunan Fan Yi."Aku hanya benci membuang waktu untuk tikus yang keras kepala," sahut Fan Yi dingin, menjaga topengnya sebagai Kepala Regu Penjaga Utara yang disiplin. "Tuan Murong Xie memberikan tugas ini padaku karena dia tahu aku tidak suka basa-basi."Di dalam hatinya, Fan Yi merutuki takdir. Menjadi perwira menengah di Beiyuan memberinya a
Kereta kuda dengan lambang keluarga Adipati Long berhenti tepat di depan gerbang utama Akademi Shin Yue. Suasana di depan akademi yang biasanya riuh oleh kedatangan putra-putra pejabat itu mendadak senyap. Para pelayan dan pengawal yang sedang menurunkan tuan muda mereka terpaku, sementara anak-ana
Setelah pemeriksaan berakhir, meskipun kehangatan fajar telah menyentuh kulitnya, Liya merasa atmosfer di ruangan itu mulai menyempit. Baginya, Paviliun Phoenix adalah singgasana yang terlalu megah sekaligus mengintimidasi."Aku sudah jauh lebih baik, Xuan. Suhu tubuhku sudah normal sepenuhnya. Ta
Malam semakin larut di Paviliun Phoenix, namun atmosfer di dalamnya terasa pekat oleh ketegangan yang tak kasatmata. Di dalam kamar yang luas itu, keheningan hanya dipecah oleh suara napas yang mulai beraturan dan gemeretak kayu bakar dari tungku di sudut ruangan. Long Xuan tetap terjaga. Meski
Pagi di Distrik Timur biasanya dimulai dengan aroma kayu bakar dan suara sapu lidi yang menggesek jalanan berbatu. Namun hari ini, suasana terasa seperti genderang perang yang ditabuh di tengah pasar. Qin Feng, pemilik toko kain yang biasanya tenang, berdiri mematung di depan tokonya. Matanya terbe







