Meskipun interaksi mereka belum banyak, Belinda tahu Damar bukan tipe orang yang memberi ruang untuk tawar-menawar. Seperti saat pertama kali mereka bertemu, ketika ia tanpa ragu mengarahkan pistol padanya. Semuanya bukan pertanyaan, melainkan kenyataan yang harus diterima.Senyum kecil muncul di bibir Belinda saat ia menerima cangkir kopi itu. “Tenang saja,” katanya, lalu menyesapnya. Ia menatap mata Damar, kali ini dengan keteguhan yang baru. “Karena aku datang sebagai istrimu dan ibu dari Adinda, aku akan ingat siapa diriku. Soal Arga… dia orang asing bagiku sekarang.”Alis Damar terangkat, ada kilat ketertarikan di matanya. Melihat ketegasan di mata Belinda, ia tertawa pelan. “Baiklah.” Ia mengangkat cangkir kopinya seolah bersulang, lalu meneguknya. “Aku menantikan penampilanmu, Nyonya Aksara.”
Read more