Begitu Hans meninggalkan ruangan, Alaric menoleh ke arah tabib tua yang sedari tadi hanya diam dengan tangan gemetar.“Tabib, mendekatlah,” perintah Alaric.Pria tua itu melangkah maju. “Hamba mendengarkan, My Lord.”“Aku butuh sesuatu yang bisa menipu mata dunia, termasuk mata Silas yang tajam,” Alaric menatap mata tabib itu dengan serius.“Buatkan ramuan yang bisa memberikan efek kematian sementara. Aku ingin sebuah ekstrak yang bisa membuat mulut Aurelia berbusa dan detak jantungnya melemah hingga nyaris tidak terasa oleh jari manusia biasa.”Tabib itu terbelalak. “My Lord, itu sangat berisiko. Jika dosisnya sedikit saja berlebih, Duchess benar-benar tidak akan bangun lagi.”“Kau adalah tabib terbaik di Utara. Jika kau gagal, maka kau akan menyusulnya ke liang lahat,” ancam Alaric tanpa keraguan.“Besok, Silas pasti akan datang untuk melihat eksekusi. Aku akan melakukan 'eksekusi' itu dengan racun di depan matanya. Setelah dia melihat Aurelia tumbang dan berbusa, dia akan yakin bah
Read More