Kabut tebal berwarna kelabu pekat menggantung rendah di mulut lembah, menelan cahaya bulan dan menyisakan kesunyian yang mencekam.Alaric menarik kekang kudanya hingga berhenti mendadak, tangan kanannya refleks mencengkeram hulu pedang besar yang tersampir di punggungnya.Di belakangnya, Aurelia dan dua belas ksatria pilihan membeku, mata mereka liar menyapu bayang-bayang pohon tua yang meliuk seperti jemari raksasa.“Jangan bergerak,” desis Alaric. Suaranya rendah, nyaris hilang tertelan desau angin.Tiba-tiba, tawa parau yang memuakkan pecah dari balik kabut. Belasan pria dengan zirah berkarat dan mata yang haus darah muncul dari balik bebatuan.Mereka adalah tentara bayaran “Gagak Hitam”, sampah masyarakat yang menguasai wilayah tak bertuan ini.Pemimpin mereka, seorang pria raksasa dengan kapak ganda yang berlumuran noda kecokelatan, melangkah maju sambil meludah ke tanah.“Selamat datang di Lembah Kabut, Tuan-tuan yang terhormat,” ujar si raksasa dengan seringai licik.“Masuk ke
Read More