“Berhentilah gemetar, Aurelia. Kau hanya perlu terlihat cantik, bukan terlihat seperti pengecut yang menunggu ajal.”Suara ayahnya, Willem van Deventer, menusuk telinga Aurelia lebih tajam daripada udara dingin yang menyelinap dari jendela aula.Lilin-lilin kristal yang menggantung di langit-langit aula besar itu berpijar terang, namun bagi Aurelia, cahaya itu terasa mencekik lehernya.Aroma anggur mahal dan parfum para bangsawan yang bercampur di udara mendadak tercium amis di hidungnya. Di balik gaun sutra berwarna biru pucat yang dia kenakan, jantungnya berdegup tidak karuan.Dia tahu ini adalah perjamuan terakhir. Di balik senyum palsu ibunya dan tawa keras ayahnya, tersimpan bangkai yang mulai membusuk.“Tersenyumlah, Aurelia,” bisik Willem lagi sambil meremas bahu putrinya terlalu kencang. Jemarinya yang gemetar karena alkohol terasa dingin di kulit Aurelia.“Jangan biarkan mereka mencium bau kemiskinan kita sebelum kesepakatan ini selesai.”Aurelia menoleh pelan, tatapan matany
Last Updated : 2026-01-18 Read more