Malam di pondok pegunungan itu seharusnya menjadi perlindungan terakhir, sebuah benteng kayu yang memisahkan mereka dari kebisingan dunia.Namun, bagi Aurelia, keheningan justru menjadi panggung bagi simfoni kematian yang paling mengerikan.Di luar, suara sungai yang mengalir deras biasanya menenangkan, tapi malam ini, suara itu terdengar seperti deru darah yang tumpah dari leher yang tergorok.Aurelia terbaring di atas ranjang kayu yang kokoh, tubuhnya berselimut kain bulu yang hangat, namun ia menggigil hebat. Keringat dingin membasahi keningnya.Di bawah kelopak matanya yang terpejam, kegelapan mulai membentuk gambar-gambar yang terfragmentasi.Ia melihat api yang menjilat langit-langit sebuah aula megah, ia mencium bau amis logam, dan yang paling menyiksa: ia mendengar teriakan-teriakan melengking yang memanggil namanya.“Tidak ... jangan ...,” igau Aurelia.Tiba-tiba, ia tersentak duduk. Napasnya pendek dan tersengal, seolah paru-parunya baru saja terisi air keruh.Jantungnya ber
Terakhir Diperbarui : 2026-03-14 Baca selengkapnya