Angin lembah menderu kencang di titik tengah jembatan, menyapu permukaan besi Nordik dengan suara siulan yang tajam. Rambut keemasan Aurelia berkibar liar, menutupi sebagian wajahnya yang pucat.Ia menatap ke bawah, ke arah jurang sedalam ratusan meter yang dulu menelan jeritan ksatria klan Laurent. Di sini, di garis sambungan raksasa ini, sejarah seolah berhenti berdetak.Alaric berdiri tegak, membiarkan jubah hitamnya tertiup angin seperti sayap elang. Ia tidak bergerak, matanya terpaku pada kaki Aurelia yang berdiri tepat di atas garis pertemuan dua lempeng besi itu.“Aku membenci tempat ini, Ric,” bisik Aurelia, suaranya hampir hilang ditelan deru angin.“Lebih dari apa pun di dunia ini. Setiap malam selama lima tahun, aku mendengar suara ledakan pilar itu di dalam tidurku. Aku melihat ayahku melambai dari seberang sebelum tanah di bawah kakiku lenyap.”Alaric menarik napas dalam, udara dingin mengisi paru-parunya. “Aku tahu. Aku yang meledakkannya, Aurel. Aku yang memerintahkan p
Baca selengkapnya