Di atas meja jati yang dipenuhi peta taktis dan laporan logistik militer, Aurelia membentangkan peta kumuh warisan Laurent.Kontras antara kedua benda itu begitu nyata, satu sisi bicara tentang cara menghancurkan, sementara sisi lainnya bicara tentang cara menanam.Alaric berdiri memunggungi meja, menatap keluar jendela ke arah kegelapan hutan Utara yang tak berujung. Suasana hening yang menyesakkan menyelimuti mereka, hanya diinterupsi oleh derak kayu yang terbakar di perapian.“Desa Oksana, Lembah Kelabu, hingga ke pesisir reruntuhan Silas,” Aurelia memulai.“Koordinat ini bukan sekadar titik geografis, Ric. Ini adalah luka yang belum kering. Di sana, anak-anak tumbuh dengan melihat pedang sebagai satu-satunya alat untuk bertahan hidup. Jika kita tidak memberi mereka alternatif, mereka akan menjadi tangan-tangan yang memegang belati untuk merongrong takhtamu sepuluh tahun dari sekarang.”Alaric berbalik perlahan, langkah botnya berdentum berat di lantai kayu. Ia menatap peta itu den
Baca selengkapnya