“Kita pulang sekarang,” ujar Edgar saat mendapat kabar jika Safna di serang.Ia langsung meninggalkan meja kerja dengan setumpuk dokumen yang bahkan belum sempat ia rapikan. Langkahnya cepat, tegas, tanpa ragu sedikit pun. Pikirannya kacau, hatinya tidak tenang. Edgar ingin segera menemui gadis itu.“Di mana lokasi Safna?” tanya Edgar pada Malik, suaranya rendah, tapi tajam.Malik yang berjalan di sampingnya langsung menjawab, “Di depan kafe dekat kediaman Anda, Tuan. Bodyguard sudah mengamankan situasi.”Edgar tidak memperlambat langkahnya.“‘Mengamankan’ tapi dia tetap diserang,” balasnya dingin.Malik terdiam sejenak. “Kami masih menelusuri pelaku, Tuan. Orang itu sudah diamankan, tapi belum bicara.”Mereka memasuki lift pribadi. Pintu tertutup, menyisakan ruang hening yang menekan.Edgar berdiri tegak, rahangnya mengeras. Tangannya masuk ke dalam saku celana, tapi jemarinya mengepal kuat di dalam sana.“Berapa orang yang jaga dia?” tanyanya lagi.“Dua di perimeter, satu yang mengi
Magbasa pa