Safna menghela napas pelan. Ia sudah siap berangkat kerja, tetapi tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.“Kak Ega,” gumamnya. “Ada apa, Kak?” tanya Safna. Tangannya berpura-pura merapikan tas yang digenggamnya.“Maaf, tapi aku harus melakukan ini,” ujar Edgar lalu membawa Safna ke dalam pelukannya tanpa penolakan dari gadis itu.Safna diam. Bahkan, untuk menjawab satu kata saja ia enggan. Lidahnya kelu, semua kata seolah berhenti di tenggorokan.“Aku janji, akan selesaikan semuanya dengan cepat,” gumam Edgar sambil menghirup aroma shampo yang menguar dari rambut Safna.Safna menarik napas pelan. Dadanya terasa sesak, tapi ia tetap memaksakan senyum tipis.“Lakukan apa yang perlu kamu lakukan, Kak. Aku… akan menunggu,” ujar Safna pada akhirnya. Ia memejamkan sebentar lalu membukanya lagi.“Tapi, kalau kamu cuma mainin perasaanku. Maka, saat itu kamu akan kehilanganku lebih dari apa yang kamu bayangkan,” lanjut Safna pelan.Edgar tidak langsung menjawab. Pelukannya justru semakin erat sesaat
Magbasa pa