Share

Bab 80

Author: Shappire
last update publish date: 2026-04-17 06:48:00

Ruang keluarga itu biasanya terasa hangat. Interiornya mewah, tertata rapi, dengan sentuhan klasik yang menunjukkan status pemiliknya. Namun, pagi itu… suasananya berubah drastis.

Televisi besar di dinding menyala sejak tadi. Berita yang sama diputar berulang-ulang. Headline yang sama. Foto yang sama. Nama yang sama—meski disamarkan.

Namun, bagi keluarga itu… tidak ada yang benar-benar samar.

BRAK!

Remote televisi dilempar keras ke meja marmer. Suara benturannya menggema, membuat beberapa pelay
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 87

    Pagi itu, suasana kantor terasa lebih tenang dari biasanya. Tidak ada lagi bisik-bisik tajam atau tatapan penuh rasa penasaran seperti beberapa hari lalu. Semua kembali berjalan seperti biasa—setidaknya di permukaan.Safna berdiri di depan pintu ruang kerja Edgar dengan sebuah map di tangannya. Ia menatap pintu itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat—bukan karena gugup bekerja, tapi karena… orang di balik pintu itu.Dua hari. Sudah dua hari sejak terakhir kali mereka bertemu di apartemen Mila. Dan sejak saat itu… tidak ada pembicaraan lagi.Safna menghela napas pelan, lalu mengetuk pintu.“Masuk.”Suara itu tetap sama—tenang, datar, dan… terlalu familiar. Safna membuka pintu perlahan, lalu melangkah masuk. Edgar duduk di balik meja kerjanya, fokus pada dokumen di depannya. Bahkan tidak langsung menatapnya.“Ada apa?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.Safna menelan ludah pelan. Ia melangkah mendekat, meletakkan map di atas meja.“Doku

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 86

    “Heh! Kamu ngapain aja sama Kak Edgar pas aku tinggal tadi malam?” tanya Mila melalui panggilan telepon.Safna terdiam. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang yang sudah dua hari tidak ditinggali. Gadis itu menghela napas sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari sahabatnya.“Nggak ngapa-ngapain. Seharusnya aku yang tanya, kamu ke mana sama Malik? Kenapa pas aku pulang kalian belum pulang?” “Nggak ke mana-mana. Dia cuma ngajak makan doang. Dia nggak bolehin aku naik, katanya nggak boleh ganggu kalian. Padahal itu apartemen aku,” ujar Mila mencibir Safna.“Bilang aja kamu kurang puas ngintipnya.”“Iih, kok tahu, sih? Mana nanggung banget lagi kurang dikit lagi kalian bakal ciuman. Sayang banget si Malik Malik itu datang. Coba kalau nggak–”“Mila!” geram Safna yang merasa malu pada sahabatnya itu.“Apa sih?”“Udah ah, malu ege.”Mila langsung terkekeh di seberang sana. Suaranya ringan, tapi jelas penuh godaan.“Maluuuu?” ulangnya panjang. “Tumben banget ada yang bikin Safna si pali

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 85

    Pintu yang terbuka itu seperti memutus sesuatu yang hampir terjadi. Udara di ruang tamu mendadak berubah.Safna langsung menjauh setengah langkah, napasnya masih belum stabil. Sementara Edgar… tetap di tempatnya. Tatapannya masih tenang, tapi rahangnya sedikit mengeras—gangguan yang datang di momen yang tidak tepat.Di ambang pintu, Malik berdiri tegak. Matanya masih tertuju pada keduanya, lalu perlahan bergeser—menilai situasi dengan cepat, seperti kebiasaannya.“Maaf,” ucap Malik akhirnya, datar. “Sepertinya saya datang di waktu yang tidak tepat.”Nada suaranya sopan. Profesional. Seolah yang barusan ia lihat bukan sesuatu yang… personal.Safna menunduk sedikit, merasa canggung.Edgar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Malik sekilas, lalu mengalihkan pandangannya.“Masuk,” ucapnya singkat.Malik menggeleng tipis. “Tidak perlu, Pak. Saya hanya ingin memastikan keadaan Nona Safna.”Kalimat itu terdengar formal. Terlalu formal untuk situasi seperti ini.Safna mengangkat wajahnya

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 84

    “Astaga—Safna… Kak Edgar di depan.”Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong. Safna tidak langsung bergerak. Napasnya tertahan di tenggorokan, jantungnya yang semula hanya berdegup cepat kini seperti menghantam dinding dadanya sendiri, liar, tak terkendali. Tidak. Tidak sekarang.“Buka,” ucapnya akhirnya, pelan—terlalu pelan untuk seseorang yang baru saja panik.Mila menatapnya ragu beberapa detik, seolah berharap Safna akan berubah pikiran. Tapi tidak. Pada akhirnya, ia tetap memutar gagang pintu. Dan di sanalah dia. Edgar berdiri tegak dengan setelan rapi yang selalu melekat pada dirinya, seolah dunia tidak pernah cukup berantakan untuk mengusik penampilannya. Wajahnya tenang, terlalu tenang—namun matanya… Llangsung menemukan Safna.Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya tatapan dalam yang terasa seperti menarik Safna masuk ke sesuatu yang belum selesai.“Masuk dulu,” sela Mila cepat, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya, mencoba menambal ketegangan yang tiba-tiba

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   83

    Sudah satu minggu setelah berita skandal Edgar muncul. Kini kabar perselingkuhan dan kandasnya hubungan Maya dan Edgar sudah mulai hilang, tenggelam dengan berita lain. Bahkan, opini publik pun sudah mereda tidak sepanas beberapa waktu lalu.“Semua sudah selesai, Nak?” tanya Albert saat mereka sedang di halaman belakang rumah sambil minum teh di pagi hari.“Sudah. Semua sesuai rencana, Pah.”Albert mengangguk. Ia melipat koran di tangan lalu mengambil tablet di meja.“Bagus. Papa selalu percaya sama kamu. Coba lihat, perusahaan orang tua Maya mulai mencari klien baru yang mau investasi. Dia juga meminta papa supaya tidak membatalkan kerjasama. Menurutmu bagaimana?” ujar Albert sambil memperlihatkan tabletnya pada Edgar. Edgar mengambil gawai tersebut dan membaca email di dalamnya. Wajahnya masih datar seolah isi di dalamnya tak berarti apa-apa. Setelah selesai membaca, Edgar memgembalikan benda tersebut kepada papanya.Edgar terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya membuka suarany

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 82

    Safna menghela napas panjang begitu pintu kamarnya tertutup. Bahunya terasa berat, bukan hanya karena pekerjaan yang menumpuk atau macetnya jalanan, tapi juga karena sesuatu yang sejak tadi ia tahan—rindu yang tak bisa ia akui.Ia sengaja menyibukkan diri seharian. Menumpuk pekerjaan, menahan diri untuk tidak membuka chat, tidak mengetik satu pesan pun untuk Edgar. Menjaga jarak seperti yang pria itu minta. Namun, semakin ia mencoba menjauh, semakin terasa kosong.“Sampai kapan ini akan berakhir,” gumam Safna pelanIa merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa tenaga. Tatapannya kosong ke langit-langit, seolah berharap jawabannya ada di sana.Baru saja matanya hendak terpejam tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.Safna mengernyit pelan. “Ya?”Pintu terbuka sedikit, dan kepala seorang perempuan paruh baya menyembul dengan senyum hangat.“Boleh mama masuk, sayang?” ujar Sofia lembut.Sofia melangkah masuk setelah Safna mengangguk pelan. Pintu ditutup perlahan di belakangnya, seolah ia tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status