Sampai di rumahnya Allea langsung di sambut Ayahnya. "Allea, Ayah tadi ambil ubi di kebun. Ayah juga sudah merebutnya. Kamu berikan ubi rebus ini untuk Pangeran.""Oh, terima kasih Ayah Mertua." Pangeran justru mendahului menjawabnya."I ... iya, Yang Mulia. Sama-sama. Silahkan, mohon maaf kalau di sini makanannya tidak seenak di istana.""Tidak masalah, aku justru senang. Selama di istana aku tidak pernah makan ubi. Mungkin ini akan jadi yang pertama kalinya," jawab Pangeran."Allea, kamu buatkan minuma hangat untuk Pangeran. Ayah akan kembali ke kebun lagi," pamit Ayah Allea membawa cangkul dan caping."Baik Yah," sahut Allea. Ia pun bergegas ke dapur memanaskan air sebentar. Lalu memasukkan beberapa daun teh kering ke dalamnya.Uap tipis mengepul dari cangkir tanah liat yang Allea pegang. Aroma teh hangat menyebar pelan, bercampur dengan wangi kayu bakar yang masih menyala di tungku dapur.Allea melangkah keluar dengan hati-hati. “Silakan, Yang Mulia. Tehnya mungkin tidak semewah
Read more