เข้าสู่ระบบ"Hamba yakin Yang Mulia pasti pulang membawa kemenangan untuk negeri ini," ucap Allea tersenyum. Seolah tidak ada kekhawatiran apapun di matanya. "Kamu tidak khawatir?" tanya Alexander. Allea menggeleng pelan. Padahal bukan itu yang di inginkannya. Ia pikir Allea akan cemas dan terlihat sedih. Tapi perempuan cantik yang sudah jadi istrinya itu tenang-tenang saja. Apakah benar Putri Allea memang sama sekali tidak ada rasa apapun terhadap dirinya.Ia mengira Allea akan menatapnya dengan cemas, mungkin menggenggam tangannya, atau setidaknya menunjukkan bahwa kepergiannya ke medan perang bukan hal sepele baginya. Tapi tidak… perempuan yang kini menyandang gelar istrinya itu justru tampak seolah semuanya biasa saja.Hati Alexander mencelos.Apakah benar… tidak ada tempat untuknya di hati Allea?“Atau…” Alexander tersenyum tipis, pahit. “Aku memang tidak sepenting itu untukmu?” batin Pangeran Alexander.Suasana menjadi hening Allea tidak berani menatap Yang Mulia. Perlahan dia berusaha mel
Pangeran Alexander baru ingat jika dia sudah menyuruh Putri Allea datang ke kamarnya. Buru-buru dia langsung mengakhiri pertemuannya dengan para penasehat kerajaan.Langkahnya cepat dan mantap menyusuri lorong istana yang panjang, jubah kebesarannya berkibar mengikuti gerakan tergesa itu. Pikirannya dipenuhi satu hal Putri Allea. Apakah dia masih ada di sana atau tidak.Sesampainya di depan pintu kamarnya, ia berhenti sejenak, merapikan ekspresinya sebelum mendorong pintu perlahan.Di dalam, suasana hening. Matanya mengedar menyapu ke seluruh penjuru kamar. Tapi tak ada siapapun di sana. Ia kecewa Putri Allea tidak ada. Tiba-tiba seorang dayang datang menghadap."Ampun Yang Mulia, Putri Allea sudah sedari tadi menunggu. Tapi ... Yang Mulia tidak datang," terang pelayan.Alexander mengernyit, rasa kecewa yang tadi muncul seketika berubah menjadi kegelisahan. Ia menoleh cepat ke arah dayang itu."Lalu?" suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan.Dayang itu menunduk lebih dala
"Yang Mulia, ada tamu dari kerajaan lain," kata seorang prajurit tiba-tiba datang menghadap."Aku ada urusan penting lainnya. Biar Asisten Yoga yang mengurus," jawab Yang Mulia."Ampun Pangeran, Asisten Yoga pulang kampung karena neneknya sakit keras," jawab prajurit itu tertunduk. "Siapa tamunya?" tanya Pangeran Alexander."Utusan Raja Vincent, beliau ingin membahas tentang perbatasan wilayah."Pangeran Alexander terdiam. Masalah perbatasan memang sangat penting tidak bisa di abaikan. Ia tahu kalau Raja Vincent selama ini kekeh kalau wilayah perbatasan itu masih milik kerajaannya. Ia tahu kedatangannya pasti membicarakan masalah tersebut. Ia melangkah mendekati jendela besar aula, menatap jauh ke arah pegunungan yang samar terlihat di cakrawala wilayah yang selama ini diperebutkan. Tanah yang subur, jalur dagang penting dan simbol kekuasaan.Pangeran Alexander kemudian berbalik, sorot matanya kini lebih tegas.“Apakah Raja Vincent datang sendiri?” tanyanya.Prajurit itu menggeleng.
"Berani sekali dia mengabaikanku. Aku harus memberinya hukunan," ucap Pangeran Alexander. Ia keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Allea."Dimana Putri Allea?" " Ampun Pangeran, Putri Allea sehabis latihan tadi langsung tidak sabar menemui putranya," jawab Dayang menunduk. "Bodoh, apa kalian tidak bilang kalau dia harus menemuiku dulu," ucap Pangeran Alexander.Dayang itu semakin menunduk dalam, suaranya bergetar."Ampun, Pangeran... kami sudah menyampaikan, tetapi Putri Allea tampak sangat gelisah. Ia langsung menuju taman belakang, tempat Pangeran kecil biasanya bermain."Tatapan Pangeran Alexander mengeras. Rahangnya mengatup kuat, menahan amarah yang semakin memuncak."Selalu saja begitu... seolah aku tidak pernah menjadi prioritasnya," gumamnya pelan, namun cukup tajam untuk membuat para dayang di sekitarnya semakin ketakutan.Tanpa berkata lagi, ia berbalik dan melangkah cepat menyusuri lorong istana. Jubahnya berkibar mengikuti langkah panjangnya, menciptakan suasana
Allea menahan napasnya setiap kali bayangan wajah putranya muncul di benaknya. Sebenarnya lebih menarik dia tinggal di kampung daripada harus bersikap tidak sesuai keinginan dirinya. Langkahnya menyusuri ruangan luas itu terasa berbeda dari biasanya. Lantai marmer yang dingin memantulkan bayangannya—tegak, terkendali, dan perlahan berubah. Setelah sesi panjang latihan etika bersama Armand, kini ia mempraktikkan setiap detail kecil yang diajarkan."Bahumu jangan tegang. Anggun bukan berarti kaku," suara Armand masih terngiang di kepalanya.Allea menarik bahunya sedikit ke belakang, membiarkan lengannya bergerak lebih alami. Ia melangkah lagi—satu, dua, tiga—menjaga ritme. Tumit menyentuh lantai lebih dulu, lalu ujung kaki mengikuti dengan lembut. Kepalanya tegak, dagunya sedikit terangkat, seolah membawa harga diri yang tak tergoyahkan. Sayangnya dia belum terbharus menahan keseimbangan. Tanpa sadar tubuh Allea sedikit limbung dan Armand dengan sigap menahannya."Hati-hati Putri," uc
Usai mandi, beberapa Dayang sibuk mendandani Allea. Mereka mematangkan perhiasan emas di leher, dan mahkota kecil di rambut Allea. Anting-anting kecil menggantung manis, berayun pelan setiap kali Allea menoleh, sementara rambutnya disisir rapi lalu dihias dengan mahkota kecil yang memancarkan pesona sederhana namun berwibawa.“Putri terlihat sangat cantik,” ujar salah satu dari mereka."Terima kasih. Emmm...setelah ini aku ingin menggendong bayiku,"ucap Allea tak sabar bertemu bayinya."Maaf Putri, tadi Pangeran Alexander berpesan kalau Anda hari ini akan mengikuti kelas sesuai yang di jadwalkan. Setelah itu baru bisa menggendong putra mahkota," terang Bibi Zena yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.Allea menoleh kaget."Bibi, kamu kemana saja mengapa baru kemari?"Bibi Zena berjalan menghampiri Allea dan memberi isyarat pada dayang lain untuk pergi. Ia tersenyum tipis, lalu menutup pintu perlahan hingga ruangan itu terasa lebih tenang.“Ada beberapa urusan di dapur istana yang haru
Pangeran Alexander gelisah, sudah tiga hari dia berada di rumah Allea. Namun dia belum berhasil membujuknya untuk kembali ke istana. Tidak mungkin dia berlama-lama terus di desa. Semua tanggung jawabnya di istana bisa terbengkalai. Meski sudah ada Yoga yang mengatasinya, tapi rasa cemas tetap saja
"Hahaha ... aku tidak membayangkan bagaimana nasib perempuan kampung itu di gudang kayu. Rasakan siapa suruh dia merebut posisiku," ucap Putri Alika. Dia yakin sekarang Allea mati lemas si sana. Karena tak ada siapapun yang tahu keberadaannya. Beberapa Dayang sibuk memijat punggung Putri Alika. D
"Tolong apa ada orang?" Allea terus berusaha mengetuk pintu. Ia terkunci dari luar, sepertinya penculiknya memang sengaja membuatnya kelelahan. Tanpa persediaan makanan dan air minum membuat Allea lemas. Perutnya yang buncit membuatnya susah berjalan. Tubuh Allea mulai kehilangan tenaga. Tenggoroka
"Yang Mulia ada?" tanya Allea."Ada, silahkan Putri masuk saja," ucap salah seorang Prajurit penjaga."Kok kamu biarkan saja Putri Allea masuk?" tanya prajurit satunya."Ya, pesan Yang Mulia Putri Allea berhak kemana saja di semua sudut istana ini."“Tapi… bukankah beliau belum memiliki gelar resmi







