LOGIN"Kau sudah hamil anak Pangeran. Anugerah apa yang kamu inginkan?" Tanya Pangeran Alexander. Dalam hati dia yakin pasti Allea ingin meminta di nikahi atau jadi selirnya. "Hamba hanya ingin, Yang Mulia menyembuhkan penyakit Ayah hamba. Itu saja," jawab Allea polos. "Itu saja, kamu tidak ingin sebuah pernikahan, harta, kedudukan atau apa?" Tanya Pangeran sekali lagi. "Tidak ... hamba yakin itu saja." "Eh, tidak ... hamba ingin satu hal lagi." Pangeran mendengarnya penuh dengan semangat. Ia yakin kali ini Allea pasti meminta di lamar. "Hamba ingin, setelah melahirkan anak ini biarkan saya dan Ayah pulang ke kampung hidup dengan tenang. Karena demi Tuhan, saya tidak pernah berniat naik ranjang Yang Mulia dengan cara curang. Saya hanya gadis desa penjual kue yang kebetulan lewat dan tidak tahu kenapa hamba di suruh ke kamar Pangeran," terang gadis itu polos. Pangeran Alexander yang biasa di puja para putri bangsawan di tolak oleh gadis desa perasaannya jadi kecewa dan malu. "Baiklah ... aku akan mencari tabib terbaik untuk mengobati Ayahmu. Setelah kau lahirkan putraku kau boleh pergi kemanapun!" Ucapnya kecewa. "Terima kasih, Pangeran!" Allea langsung bersimpuh di hadapan Yang Mulia Pangeran. Namun Pangeran justru acuh meninggalkannya. Baru kali ini dia merasa di tolak wanita.
View MoreSetelah beberapa saat hanya berdua di dalam kolam pemandian. Dia merasa canggung jika hanya berduaan dengan Alexander. Meski sudah berstatus suami istri yang sah. "Kamu mau kemana?" tanya Yang Mulia memeluknya dari belakang. "Mau berganti pakaian Yang Mulia... kita sudah berlama-lama di kolam ini. Takutnya nanti masuk angin," kata Allea beralasan. "Oh, ya. Aku pikir kamu tengah menghindariku?" jawab Yang Mulia. Tangannya semakin mempererat pelukannya. Sementara tangan yang satunya menyusup di antara gundukan kenyal Allea. Menyapunya lembut perlahan. Membuat seluruh tubuh Allea merinding. Perempuan cantik itu pipinya merah menahan gairah yang di ciptakan suaminya. "Bu ... bukan Yang Mulia, hamba ingin segera bertemu dengan bayi hamba. Mungkin dia lapar sekarang," jawab Allea beralasan. "Aku juga lapar, kamu tidak ingin mengenyangkanku?" goda Yang Mulia. "Kita bisa makan setelah ini, kalau Yang Mulia lapar," kata Allea. "Iya, sayangnya aku tidak lapar makanan. Tapi ingin l
"Hamba yakin Yang Mulia pasti pulang membawa kemenangan untuk negeri ini," ucap Allea tersenyum. Seolah tidak ada kekhawatiran apapun di matanya. "Kamu tidak khawatir?" tanya Alexander. Allea menggeleng pelan. Padahal bukan itu yang di inginkannya. Ia pikir Allea akan cemas dan terlihat sedih. Tapi perempuan cantik yang sudah jadi istrinya itu tenang-tenang saja. Apakah benar Putri Allea memang sama sekali tidak ada rasa apapun terhadap dirinya.Ia mengira Allea akan menatapnya dengan cemas, mungkin menggenggam tangannya, atau setidaknya menunjukkan bahwa kepergiannya ke medan perang bukan hal sepele baginya. Tapi tidak… perempuan yang kini menyandang gelar istrinya itu justru tampak seolah semuanya biasa saja.Hati Alexander mencelos.Apakah benar… tidak ada tempat untuknya di hati Allea?“Atau…” Alexander tersenyum tipis, pahit. “Aku memang tidak sepenting itu untukmu?” batin Pangeran Alexander.Suasana menjadi hening Allea tidak berani menatap Yang Mulia. Perlahan dia berusaha mel
Pangeran Alexander baru ingat jika dia sudah menyuruh Putri Allea datang ke kamarnya. Buru-buru dia langsung mengakhiri pertemuannya dengan para penasehat kerajaan.Langkahnya cepat dan mantap menyusuri lorong istana yang panjang, jubah kebesarannya berkibar mengikuti gerakan tergesa itu. Pikirannya dipenuhi satu hal Putri Allea. Apakah dia masih ada di sana atau tidak.Sesampainya di depan pintu kamarnya, ia berhenti sejenak, merapikan ekspresinya sebelum mendorong pintu perlahan.Di dalam, suasana hening. Matanya mengedar menyapu ke seluruh penjuru kamar. Tapi tak ada siapapun di sana. Ia kecewa Putri Allea tidak ada. Tiba-tiba seorang dayang datang menghadap."Ampun Yang Mulia, Putri Allea sudah sedari tadi menunggu. Tapi ... Yang Mulia tidak datang," terang pelayan.Alexander mengernyit, rasa kecewa yang tadi muncul seketika berubah menjadi kegelisahan. Ia menoleh cepat ke arah dayang itu."Lalu?" suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan.Dayang itu menunduk lebih dala
"Yang Mulia, ada tamu dari kerajaan lain," kata seorang prajurit tiba-tiba datang menghadap."Aku ada urusan penting lainnya. Biar Asisten Yoga yang mengurus," jawab Yang Mulia."Ampun Pangeran, Asisten Yoga pulang kampung karena neneknya sakit keras," jawab prajurit itu tertunduk. "Siapa tamunya?" tanya Pangeran Alexander."Utusan Raja Vincent, beliau ingin membahas tentang perbatasan wilayah."Pangeran Alexander terdiam. Masalah perbatasan memang sangat penting tidak bisa di abaikan. Ia tahu kalau Raja Vincent selama ini kekeh kalau wilayah perbatasan itu masih milik kerajaannya. Ia tahu kedatangannya pasti membicarakan masalah tersebut. Ia melangkah mendekati jendela besar aula, menatap jauh ke arah pegunungan yang samar terlihat di cakrawala wilayah yang selama ini diperebutkan. Tanah yang subur, jalur dagang penting dan simbol kekuasaan.Pangeran Alexander kemudian berbalik, sorot matanya kini lebih tegas.“Apakah Raja Vincent datang sendiri?” tanyanya.Prajurit itu menggeleng.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.