Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!

Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!

last updateLast Updated : 2026-01-16
By:  RasyidfatirOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Kau sudah hamil anak Pangeran. Anugerah apa yang kamu inginkan?" Tanya Pangeran Alexander. Dalam hati dia yakin pasti Allea ingin meminta di nikahi atau jadi selirnya. "Hamba hanya ingin, Yang Mulia menyembuhkan penyakit Ayah hamba. Itu saja," jawab Allea polos. "Itu saja, kamu tidak ingin sebuah pernikahan, harta, kedudukan atau apa?" Tanya Pangeran sekali lagi. "Tidak ... hamba yakin itu saja." "Eh, tidak ... hamba ingin satu hal lagi." Pangeran mendengarnya penuh dengan semangat. Ia yakin kali ini Allea pasti meminta di lamar. "Hamba ingin, setelah melahirkan anak ini biarkan saya dan Ayah pulang ke kampung hidup dengan tenang. Karena demi Tuhan, saya tidak pernah berniat naik ranjang Yang Mulia dengan cara curang. Saya hanya gadis desa penjual kue yang kebetulan lewat dan tidak tahu kenapa hamba di suruh ke kamar Pangeran," terang gadis itu polos. Pangeran Alexander yang biasa di puja para putri bangsawan di tolak oleh gadis desa perasaannya jadi kecewa dan malu. "Baiklah ... aku akan mencari tabib terbaik untuk mengobati Ayahmu. Setelah kau lahirkan putraku kau boleh pergi kemanapun!" Ucapnya kecewa. "Terima kasih, Pangeran!" Allea langsung bersimpuh di hadapan Yang Mulia Pangeran. Namun Pangeran justru acuh meninggalkannya. Baru kali ini dia merasa di tolak wanita.

View More

Chapter 1

Bertemu Pangeran

"Jangan kabur Allea!"

"Kamu berani hamil dengan laki-laki lain!"

"Kamu harus menerima hukumannya!" teriak seorang pria sembari mengejar Allea.

Allea berlari sekuat tenaga. Nafasnya terengah-engah kakinya terseok-seok hingga tak sengaja terkena batu di hadapannya sampai jatuh terjerembab. Darah segar mengalir di kakinya. Ia mengalami pendarahan.

Allea panik."Tidak, aku tidak mau melahirkan di sini."

Ia melihat ke sekeliling hutan, tak ada siapapun yang bisa menolongnya. Ia meringis kesakitan namun tidak ada yang menolong.

Delapan bulan yang lalu ... sebelum Allea hamil ia mengalami peristiwa yang naas.

Allea mengantar kue pesanan ke istana. Kue buatannya memang sangat lezat hingga ibu suri sering memesan kuenya. Biasanya ayahnya yang mengantar kue-kue tersebut. Sayangnya, kondisi ayahnya yang sedang sakit tidak memungkinkan untuk mengantar kuenya ke istana.

Setelah melewai perjakanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya ia sampai di depan pintu istana. Ada dua orang penjaga berdiri di sana.

"Tuan pengawal, saya mau mengantar kue ini ke dapur istana. Bisa minta tolong sampaikan pesan ini pada kepala dapur istana?" tanya Allea sopan.

Namun keduanya terdiam tidak ada yang menjawab. Pandangan mereka justru tertuju pada tandu yang berhenti di halaman bersama beberapa prajurit berkuda sebagai pengawalnya.

Seorang pemuda tampan berjalan mendekat. Sorot matanya teduh namun tajam, rahangnya tegas, dan senyum samar terukir di sudut bibirnya. Busana yang dikenakannya terlihat mahal. Caranya melangkah menunjukkan wibawa yang sulit disembunyikan.

Pengawal itu langsung menunduk hormat pada sang pemuda.

“Yang Mulia, selamat datang kembali.”

Allea tertegun. 'Jadi… pemuda ini bukan orang biasa,' batinnya.

Dan saat tatapannta rak sengaja bertemu, hatinya berdegup lebih cepat dari biasanya. Namun pria tampan itu segera mengalihkan pandangannya.

"Bagaimana keadaan Ibu suri?" tanya Pangeran Alexander.

"Ibu suri sedang sibuk mempersiapkan pesta. Dan para putri juga sudah berdatangan menunggu Anda," jawab pengawal.

"Ooh, kalau begitu aku keluar dulu cari angin. Kalian lakukan tugas dengan baik," perintahnya.

Para pengawal justru bingung dengan sikap Yang Mulia Pangeran. Baru saha datang kenapa harus pergi. Bukankah kehadirannya sangat di tunggu. Ia cenderung tidak tertarik dengan acara yang di gelar Ibu Suri.

"Maaf Tuan, bisa tunjukkan dimana ruang pengurus dapur. Saya mau menaruh kue ini." Dengan sedikit ragu Allea memberanikan diri bertanya.

Tak ada jawaban. Pangeran Alexander melihatmya sesaat lalu mengambil satu potong kue tersebut dan memakannya.

"Tu ... tuan jangan di makan!" cegah Allea.

Para pengawal langsung bersiap mengarahkan tombak ke arah Allea.

"Berani menghalangi Yang Mulia, Nona akan mati di ujung tombak ini!" Seru salah seorang prajurit.

"Bu ... bukan begitu. Aku takut kalau Ibu  Suri akan marah karena jumlah kuenya berkurang," keluh Allea ketakutan.

Pangeran Alexander memberikan cincinnya. "Kau bisa tunjukkan ini pada pelayan dapur. Mereka akan mengerti," ucap Pangeran Alexander tenang.

Para prajurit saling berpandangan, mengapa Pangeran Alexander begutu mudah menyerahkan cincin tersebut pada wanita desa.

Ia pun pergi meninggalkan Allea dan kembali masuk ke dalam tandunya. Para pengawal langsung menutup tirai halus bertabur benang emas itu, menutupi sepenuhnya sosok sang pangeran.

Namun tepat sebelum tandu itu berbalik arah, tirai tersebut tersibak sedikit dari dalam. Jari yang kekar dan berwibawa menahan ujung kainnya, lalu sepasang mata yang dalam kembali menatap ke arah Allea.

Hanya sesaat.

Tatapan itu begitu tenang, namun seolah menyimpan makna yang tak terucap. Seakan ia tengah mencoba mengingat wajah gadis yang baru saja ditemuinya. Angin berembus pelan, membawa aroma bunga istana, sementara waktu terasa melambat bagi Allea.

Begitu tirai tertutup kembali, tandu pun bergerak menjauh. Derap langkah para pengusung terdengar berirama, perlahan memudar di kejauhan.

Allea tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung tandu itu hingga menghilang di balik lengkungan gerbang istana.

"Hmm, aku kira Pangeran tidak tertarik dengan wanita desa," goda pengawal kepercayaannya.

"Tidak, aku cuma baru kali ini lihat penampilan perempuan desa seperti itu," kilah Pangeran.

"Banyak putri raja yang menanti Pangeran di pesta Ibu Suri. Kenapa Pangeran justru menghindar?" tanya pengawalnya.

"Posisi untuk jadi istriku tidak semudah iti di dapatkan. Butuh perjuangan untuk mencapainya," sahut Pangeran Alexander.

Sementara itu Allea masih kebingungan mau di taruh dimana kue itu. Karena belum bertemu kepala pelayan. Ia di persilahkan masuk oleh prajurit untuk mencarinya sendiri.

Dua orang lelaki bersimpangan dengannya. Langsung saja dia menghentikan mereka.

"Tuan ... bisa tunjukkan letak dapur istana?" tanya Allea.

"Di sana!" tunjuk salah satu pria itu asal.

"Terima kasih Tuan," jawab Allea. Ia langsung bergegas pergi meninggalkan kedua orang tadi.

"Hei, apa kamu kenal wanita tadi? Mengapa kamu tunjukkan ke arah yang salah?" tegur temannya.

"Alah ... biarkan saja. Toh, dia bukan orang asli sini," kata pria tersebut asal. Ia tidak peduli kalau nanti Allea nyasar atau salah tempat.

Di taman berdiri seorang putri cantik yang terkenal kesombongannya. Putri Veronika. Dia adalah putri Perdana Menteri.

"Nona, hamba yakin Nona pasti menjadi putri tercantik di pesta hari ini," ucap salah seorang pelayan.

"Tentu saja, tak akan ada yang menyamai kecantikanku. Dan aku sudah punya trik khusus agar Yang Mulia lebih dekat denganku," ucapnya tersenyum misterius.

Putri Veronika memang terkenal licik. Dia selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang di inginkannya. Sejak kecil, Perdana Menteri terlalu memanjakannya. Sehingga sifatnya manja.

"Nona memang cerdas," puji pelayannya.

"Tentu saja," sahutnya penuh percaya diri.

Terdengar pintu taman ada yang mendorong. "Sst ... sepertinya ada yang datang mungkin Pangeran kesini."

Tak sabar menunggu Putri Veronika yang membantu membuka pintunya. Matanya membulat tak percaya, harapannya sirna.

"Kamu siapa berani masuk ke sini. Gadis kampung!" hardiknya.

"Maaf Nona, saya hendak ke dapur istana. Tapi saya bingung harus ke arah mana," terang Allea polos.

"Pergi sana! Kamu pikir kaki kotormu ini layak masuk istana!" Veronika mendorong tubuh Allea hingga hampir jatuh. Untung saja kue-kuenya dalam wadah aman.

"Dasar gadis kampung, pergi dari sini aku tidak mau istana ini di kotori otang miskin sepertimu!" hina Veronika.

"Saya akan pergi Nona, tapi tolong tunjukkan tempat dimana dapur istananya. Setelah ini saya janji akan pergi dari sini."

Putri Veronika tak menyadari bahwa setiap gerakannya sejak tadi berada dalam pengamatan sepasang mata lain. Pangeran Alexander baru saja tiba di koridor itu, langkahnya terhenti ketika melihat apa yang dilakukan sang putri. Tatapannya mengeras, namun ia memilih diam.

Asistennya yang berdiri di belakang refleks hendak melangkah maju, berniat mencegah atau setidaknya menegur. Namun belum sempat ia bergerak lebih jauh, Pangeran Alexander mengangkat tangannya sedikit. Sebuah isyarat tegas namun tenang. Asisten itu pun mengurungkan niatnya.

Pangeran Alexander tetap berdiri di tempatnya, membiarkan peristiwa itu berlangsung. Ia ingin tahu seberapa kejamnya sifat putri Veronika di belakangnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status