Lembah Gema, Perbatasan UtaraJika neraka pernah membeku, beginilah rupanya. Badai meraung tanpa henti, menghempaskan butiran salju setajam jarum yang mengiris kulit tanpa ampun. Namun hamparan putih itu tak lagi suci, warnanya telah berubah menjadi merah pekat, bercampur lumpur, abu, dan darah.Denting logam beradu memekakkan telinga. Jerit kesakitan dan amarah saling bersahutan, memenuhi udara yang membeku. Di tengah kekacauan itu, satu sosok melesat bagaikan kilat hitam, cepat, dingin, dan mematikan.Kael de Vallas.Ia tidak berdiri di balik garis pertahanan seperti kebanyakan jenderal. Tidak. Kael berada di garis terdepan, tepat di jantung pertempuran. Pedang besar di tangannya, yang bagi prajurit biasa terasa seberat batu, berayun ringan seolah hanya sepotong kayu. Setiap tebasan merenggut satu nyawa.SRING! CRASH!“Maju! Jangan beri celah!” teriak Kael, suaranya menggelegar menembus deru badai.Dari sisi samping, seorang prajurit bertubuh raksasa menerjang, anggota kelompok baya
Magbasa pa