Cahaya matahari menyelinap pelan dari celah tirai, lalu jatuh lembut di lantai kamar utama kediaman Vallas. Udara pagi masih menyisakan dingin, tetapi tidak lagi setajam malam sebelumnya. Aroma obat masih tertinggal samar di ruangan, bercampur dengan wangi kayu dari perapian yang mulai padam, menciptakan keheningan yang hangat sekaligus menenangkan.Valeriana terbangun lebih dulu.Ia tidak langsung bergerak. Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring diam di samping Kael, menatap wajah pria itu yang masih terlelap. Setelah malam panjang yang dipenuhi luka, demam, dan pengakuan, pemandangan Kael yang bisa tidur dengan lebih tenang membuat dada Valeriana terasa sedikit lebih ringan.Wajah Kael terlihat lebih damai.Demamnya tampak mulai turun. Napasnya teratur, meski sesekali dahinya masih berkerut kecil, mungkin karena luka-luka di tubuhnya masih meninggalkan nyeri. Valeriana mengangkat tangan perlahan, lalu menyentuh kening Kael dengan punggung jarinya.Hangat.Namun tidak sepanas semala
Baca selengkapnya