Pagi pertama tanpa Kael terasa seperti terbangun di rumah kosong yang asing. Bukan karena dihuni hantu, melainkan oleh keheningan yang begitu pekat hingga terasa menekan dada. Biasanya, pada jam seperti ini, kediaman Duchy Vallas telah dipenuhi kehidupan, derap sepatu bot Kael yang menggema di lantai kayu, denting pedang dari lapangan latihan, atau suara baritonnya yang lantang memanggil, “Istriku, kau di mana?”Namun pagi ini, semuanya lenyap. Kediaman itu terlampau besar untuk kesunyian seperti ini dan kini terasa hampa. Valeriana duduk di ujung meja makan panjang dari kayu mahoni. Di hadapannya tersaji sarapan mewah untuk dua orang, roti panggang hangat, telur rebus bertabur garam halus, sosis sapi panggang, keju lembut, serta potongan buah segar yang tertata rapi.Namun kursi di seberang sana, kursi besar bersandaran tinggi dengan lambang serigala, kosong tak berpenghuni.Valeriana menatapnya lama. Dalam benaknya, ia masih dapat melihat Kael duduk di sana, menyantap roti dengan la
Read more