"Empat ratus... sembilan puluh... delapan."Napas Ling Chenxiao terdengar serak dan memburu. Keringat membanjiri pelipisnya, menetes membasahi karpet berbulu tebal di ruang tengah apartemen."Empat ratus... sembilan puluh... sembilan."Lengan pemuda itu bergetar hebat menahan bobot tubuhnya. Urat-urat di leher dan lengan bawahnya menonjol menegang, memerah karena aliran darah yang terpompa maksimal."Lima... ratus!"Chen Yi ambruk dengan bunyi debam tertahan, membiarkan dadanya menghantam karpet. Ia berbaring telentang, meraup oksigen sebanyak-banyaknya seolah baru saja selamat dari eksekusi mati. Paru-parunya terbakar, namun entah mengapa, ia sama sekali tidak merasa sengsara.Setelah napasnya mulai teratur, Chen Yi bangkit dan berjalan menuju cermin raksasa di lorong apartemen. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Tubuhnya masih ramping, namun otot-otot di bahu, dada, dan perutnya kini mulai tercetak dengan definisi yang jelas. Postur tubuhnya tak lagi melengkung layaknya pang
Baca selengkapnya