‘Jika ia mau, ia bisa saja mematahkan leherku sekarang. Bahkan tanpa perlu repot-repot menarik pedangnya,’ pikiran itu bergema jernih di benak Yan Zhiyao saat sorot matanya mengunci sosok Xiaochen.Pria itu membalas tatapannya. Pandangannya turun menyapu selendang yang menutupi separuh wajah Zhiyao, lalu perlahan naik, kembali beradu dengan sepasang mata yang menatapnya tanpa setitik pun riak ketakutan.“Mengapa kau menutupi wajahmu?” Suara Xiaochen memecah keheningan, terdengar berat dan datar. Alisnya sedikit berkerut.Zhiyao menegakkan bahunya, mengumpulkan sisa-sisa tenaga di tubuh rapuh itu untuk mempertahankan postur sempurnanya.“Udara malam cukup dingin, Yang Mulia,” jawabnya santai. “Tubuh hamba sangat lemah. Maafkan hamba jika penampilan ini tidak menyenangkan mata Anda malam ini.”Di balik selendangnya, otak Zhiyao berputar cepat, menyusun ulang semua informasi dari novel yang ia baca.Pria di hadapannya ini bukanlah pewaris takhta, melainkan pedang paling berdarah mi
Read more