LOGINGerbang utama istana terbuka lebar di bawah cahaya obor yang berkelap-kelip. Angin malam membawa aroma bunga krisan dan dupa kayu cendana dari aula utama. Rombongan Kaisar Hiroshi memasuki halaman dalam dengan derap kuda yang pelan, para prajurit berlutut hormat, dan para dayang berbaris rapi menyambut. Hiroshi turun dari kuda dengan gerakan yang tetap gagah meski tubuhnya lelah setelah perburuan panjang. Jubah hitamnya penuh debu jalan, rambut panjangnya masih sedikit acak-acakan, tapi matanya... matanya jauh. Permaisuri Kiyomi sudah menunggu di beranda aula utama. Dia berdiri dengan anggun, kimono sutra merah marun dengan sulaman burung phoenix emas membalut tubuhnya yang ramping dan sempurna. Rambut hitamnya ditata tinggi dengan hiasan giok dan tusuk konde perak, wajahnya dihias tipis dengan bedak putih dan bibir merah cerah. Matanya—hitam pekat seperti malam—berkilau penuh semangat saat melihat suaminya kembali. Sudah hampir sebulan Hiroshi pergi berburu, dan malam ini dia sudah
300 tahun yang lalu Matahari sudah condong sangat rendah ketika rombongan Kaisar Hiroshi akhirnya memutuskan berhenti di tepi sungai yang jernih itu. Istana masih delapan jam perjalanan lagi—terlalu jauh untuk ditempuh dalam kegelapan malam yang mulai turun. Para pengawal segera mendirikan tenda sederhana, menyalakan api unggun kecil, dan mengurus kuda-kuda yang sudah kelelahan. Hiroshi sendiri melepas armor peraknya yang berat, meninggalkan hanya jubah dalam hitam tipis yang menempel di tubuhnya yang penuh otot dan bekas luka perburuan. Rambut hitam panjangnya terlepas dari ikatan, menjuntai basah oleh keringat dan embun sore. “Tuanku, istirahat dulu di sini,” kata kepala pengawal dengan hormat. “Kami jaga malam ini.” Hiroshi mengangguk tanpa banyak bicara. Dia berjalan menyusuri tepian sungai, mencari ketenangan setelah seharian mengejar rusa besar di hutan pegunungan. Air sungai mengalir tenang, suaranya seperti bisikan yang menenangkan. Dia berniat mencuci muka dan tangan, ta
Pagi di Seoul terasa lebih cerah dari biasanya, meski langit masih diselimuti awan tipis musim gugur. Di apartemen minimalis di Gangnam, Min-ho terbangun tepat pukul 06:15 seperti rutinitasnya selama bertahun-tahun. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui tirai linen putih, menerangi tubuhnya yang telanjang di bawah selimut tipis. Dia duduk di tepi ranjang, menggosok wajahnya pelan, lalu menatap ponsel di meja samping.Pesan terakhir dari Jeong Min masih terbaca: **Jeong Min (kemarin malam 23:47):** Oppa pulang kapan? Aku kangen... jangan terlalu capek ya. Love you ♡Min-ho tersenyum kecil—senyum yang sekarang terasa lebih hangat, lebih penuh makna. Dia mengambil ponsel, jarinya mengetik dengan tenang tapi pasti.**Min-ho (06:18):** Pagi sayang. Aku sudah bangun. Hari ini aku jemput kamu jam 7 malam ya, kita dinner. Aku kangen juga. Pakai dress biru yang aku suka itu. Love you more.Dia mengirim, lalu meletakkan ponsel dan berjalan ke kamar mandi. Air dingin mengguyur tubuhnya, tapi
Di ruangan rahasia lantai bawah, kegelapan terasa lebih pekat setelah pintu tertutup. Cahaya lentera kecil di sudut ruangan cuma mampu menerangi sebagian kecil—bayangan naga emas di dinding batu hitam berkilau samar seperti mata yang mengawasi, aroma cendana dari dupa yang sudah padam masih menggantung di udara seperti napas lama yang enggan pergi. Hanna duduk di lantai tatami yang dingin, jubah sutra basah menempel di kulitnya, air masih menetes pelan dari ujung rambut hitamnya ke bahu, membentuk genangan kecil yang dingin di bawahnya. Napasnya tersengal, dada naik-turun cepat, mata hijau tajamnya berkaca-kaca tapi tatapannya sudah kembali tegas—panik tadi mulai digantikan oleh tekad yang dingin.Kenzo berdiri di ambang pintu, handuk putih melilit pinggang, kulitnya masih berkilau karena sisa air bathtub. Matanya tidak lepas dari Hanna, tatapannya campur antara kejutan, kekaguman, dan tekad yang tidak mau mundur.Hanna bangkit pelan, tangannya memegang jubah agar tidak terbuka lebih
Mereka terengah-engah dalam diam yang hangat, tubuh saling menempel di atas sprei sutra hitam yang sudah kusut. Keringat mereka bercampur, aroma cendana dari Hanna dan cedar segar dari Kenzo menciptakan kabut yang memabukkan di ruangan. Hanna masih di atas, merasakan denyut terakhir dari Kenzo di dalam dirinya, hangat dan penuh yang membuat pahanya gemetar pelan. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasa, sebuah sensasi yang aneh tapi menyenangkan—seperti ada retakan kecil di dinding es yang sudah ratusan tahun berdiri. Tato naga di paha kirinya terasa hangat samar, seperti bara yang mulai hidup lagi. Kenzo terbaring di bawahnya, napasnya lambat tapi berat, tangannya masih memegang pinggul Hanna dengan lembut. "Itu... luar biasa," gumamnya serak, suaranya penuh kepuasan tapi juga haus lebih. "Aku nggak nyangka bisa rasain gini. Tapi aku mau lebih lagi. Aku mau belajar posisi lain. Di mana aja. Aku nggak mau berhenti malam ini." Hanna tersenyum pelan, bibirnya menyentuh bibir Kenz
Ciuman mereka berlangsung seperti mimpi yang tak ingin berakhir—bibir Kenzo semakin berani, lidahnya menjelajah mulut Hanna dengan ritme yang belajar cepat tapi penuh lapar. Hanna membalas dengan desahan pelan yang keluar dari tenggorokannya, suara itu seperti hembusan angin panas yang bikin bulu kuduk Kenzo berdiri. Tangan pria itu masih memegang payudara Hanna, meremas pelan, merasakan bagaimana bentuknya berubah di telapak tangannya—lembut, penuh, elastis, putingnya keras dan sensitif setiap kali ibu jarinya menggosok lingkaran kecil yang lambat. Hanna menarik diri pelan, bibirnya basah dan merah, napasnya tersengal lembut. Matanya di balik topeng rendanya penuh godaan. "Kau cepat sekali belajar," bisiknya, suaranya serak dan mendayu seperti lagu malam. "Rasanya bibirmu... manis sekali. Kau suka cium aku seperti ini?" Kenzo mengerang pelan, tangannya masih memeluk pinggang Hanna. "Ya... aku suka. Bibirmu... lembut banget. Aku mau terus cium kamu." Hanna tersenyum, bibirnya men







