Dirgantara melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah berat. Jasnya masih rapi, dasinya terikat sempurna, tapi wajahnya berkata sebaliknya. Pucat, rahangnya mengeras, dan sorot matanya kosong seperti baru saja melewati sesuatu yang jauh lebih melelahkan daripada sekadar meeting berjam-jam.Banyu menyusul dari belakang, ikut masuk ke ruang kerja Dirgantara. Pintu ditutup pelan, menyisakan keheningan yang canggung.“Hebat banget lo masih bisa fokus sama kerjaan, sementara kondisi lo lagi benar-benar nggak fit. Udah seminggu ini lo begini, Nyet. Sumpah, gue khawatir,” ujar Banyu. “Lo nggak pengen ke Dokter dulu? Mana tahu lo tipes, Anjir.”“Gue nggak apa-apa, Nyet. Gue masih kuat, kok.” Walaupun wajah Dirgantara berkata sebaliknya. “Lo udah ketemu sama Dya?” tanya Banyu akhirnya, bersandar di tepi meja.Dirgantara berhenti di tengah ruangan. Ia menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. Satu tangannya terangkat, menekan pelipisnya yang terasa berdenyut hebat. Kepalanya pening,
Read more