Dirgantara tampak tenggelam di balik meja kerjanya. Tumpukan berkas memenuhi hampir seluruh permukaan meja, sebagian masih digenggam erat di tangannya, sebagian lain berserakan seolah menuntut perhatian yang sama mendesaknya. Matanya bergerak cepat menelusuri setiap baris angka dan catatan, alisnya sesekali mengernyit, lalu mengendur saat ia menghela napas panjang.Jam di dinding berdetak pelan, mengingatkan bahwa waktu terus berjalan—dan dua hari lagi, hidupnya akan berubah selamanya.Namun di ruang itu, Dirgantara seakan memilih mengurung diri dalam kesibukan. Ia menandatangani satu berkas, meletakkannya ke samping, lalu meraih map lain tanpa jeda. Ponselnya bergetar beberapa kali di atas meja, nama Sadya sempat muncul di layar, tapi Dirgantara hanya melirik sekilas sebelum membalikkan ponsel itu menghadap ke bawah. Bukan karena ia tak peduli, melainkan karena pikirannya terlalu penuh untuk sekadar berhenti.Di antara angka, jadwal, dan tanggung jawab yang menumpuk, terselip kegelis
Read more